Rabu, 30 Juni 2021

 Pilihan Jalan Hidup Manusia

Penulis; Machrus Budinoer, 15 Juni 2016


“Dan jiwa serta penyempurnaan (ciptaanNya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan merugilah orang yang mengotorinya”. (QS. Asy-Syam ayat 7-10).

A. Hakekat Manusia.

Jiwa serta penyempurnaannya merupakan sepenggal arti dari ayat Al-Quran yang menerangkan kepada kita tentang kenyataan hidup manusia di dunia ini, dan manusia merupakan makhluk utama dan pemimpin bagi semua makhluk. Pada hakekatnya diri manusia ada dua kehidupan yang di antara keduanya merupakan perwujudan dari dua alam yang berbeda yaitu jasmani dan ruhani. Jasmani merupakan wujud dari hidup manusia di dunia karena keperuntukan dari penciptaannya adalah alat untuk manusia agar bisa mengelola dan mengatur dunia dan segala isi di dalamnya, agar bisa digunakan dan dimanfaatkan untuk kelangsungan hidupnya. Jasmani manusia adalah wujud paling sempurna dari semua bentuk makhluk yang ada di muka bumi ini.

Karena jasmani dibekali oleh Tuhan dengan segala panca indra yang mempunyai fungsi yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan untuk bertahan dan menyempurnakan dirinya di dunia ini. Mulai dari mata dengan penglihatannya, hidung dengan penciumannya telinga dengan pendengarannya, akal dengan pikirannya, jantung dengan perasaannya, dan hati dengan kepekaannya, itu merupakan alat yang dapat digunakan oleh manusia dari jasmani, tapi untuk dapat menggerakkan dan mefungsikan panca indra dari jasmani maka diisi dengan yang di sebut nafsu yaitu ruh dari dunia, karena tanpa nafsu jasmani tidak akan dapat mengerti apa yang akan dikerjakan di dunia ini.

Karena hakekat dari dunia adalah nafsu maka mempunyai sifat yang sama dengan isi dunia ini, yaitu nafsu dengan sifat dari benda yang disebut syaitoniah, sifat dari tumbuh-tumbuhan atau nabatiah, sifat dari hewan atau khewaniah dan sifat dari dirinya sendiri sebagai manusia yang berbadan yaitu jasmaniah atau mutmainnah. Inilah sifat dari dunia yang kita tempati sekarang ini dan nafsu merupakan perwujudan dari dunia, kemudian dari berpadunya sifat tersebut akan terbentuk kehidupan yang mengisi dan menguasai jasmani yaitu sukma, demikianlah keadaan jasmani manusia yang diciptakan Tuhan dengan segala kelengkapannya.

Kemudian hidup yang kedua yaitu Ruhani, adalah ruh hidup yang hakiki yang di sebut sebagai Nafs (jiwa) dalam firmanNya merupakan wujud nyata dari manusia yang telah ditakdirkan Tuhan untuk menjadi pemimpin dari semua makhluk yang ada, yang tercipta langsung tanpa perantara karena Tuhan sendiri yang menghendaki dan tercipta dari Nur, dan merupakan induk dari semua makhluk yang diciptakan Tuhan, karena alam semesta dan isinya terbuat dari sebagian nur tersebut tanpa terkecuali.
“Ingatlah waktu Allah berkata pada malaikat, bahwa sesungguhnya Aku akan mengangkat seorang khalifah di muka bumi , malaikat menjawab, kenapa Engkau angkat orang yang akan berbuat binasa di bumi ini dan menumpahkan darah? padahal kamilah yang tetap selalu mensucikan dan memuji-Mu, Dia berfirman ”Sungguh Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. Al-Baqarah ayat 30).

Itulah kedudukan dari ruhani manusia yang telah Tuhan tetapkan agar menjadi khalifah atau pemimpin semua makhluk baik di dunia dan akhirat, dan diawali dengan diciptakannya manusia yang bernama Adam yang berarti “Permulaan”, dan sebagai penguji keimanan semua makhluk yang terdahulu kepada perintah Tuhannya.
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “sujudlah kamu kepada Adam!” maka mereka pun bersujud kecuali iblis. ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir. (QS. Al-Baqarah ayat 34).

B. Pilihan Jalan Hidup.

Atas dasar apa Tuhan memerintahkan kepada semua makhluk untuk bersujud dan mengakui kekhalifahan manusia padahal di antara makhluk yang lain manusia merupakan yang paling akhir dalam penciptaannya, sehingga apa yang telah diperintahkanNya ada yang menolak untuk melaksanakannya, dengan alasan bahwa ia sudah lebih dahulu bermakrifat kepada Tuhan sedangkan manusia baru tercipta, dan dia terbuat dari sifat yang lebih tinggi yaitu api sedangkan ia tahu manusia tercipta dari tanah liat.

Demikian penolakan yang diwujudkan oleh makhluk yang bernama Iblis atas perintah Tuhannya. Iblis sudah melampaui batas dari kodrat yang telah ditetapkan sehingga berani untuk menentang perintah yang seharusnya dilakukan, karena hakekat dari makhluk hanya menjalankan apa yang telah menjadi ketetapanNya. “Sungguh Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
Perintah yang telah ditetapkan kepada semua makhluk agar dapat mengakui kekhalifahan manusia bukan sekedar paksaan untuk dilaksanakan namun karena sifat penciptaan semua makhluk dan alam semesta ini adalah dari nur jiwa manusia, jadi induk alam semesta adalah jiwa manusia, maka Tuhan ingin agar mereka tahu bahwa manusia merupakan hakekat dari alam semesta ini, demikian dasar dari kekhalifahan yang menjadi kodrat hidup manusia. Di antara banyaknya pengertian yang telah diberitahukan tentang ketetapan Tuhan kepada manusia sedikit sekali yang menjabarkan mengenai hakekat dari jiwa yang sesungguhnya, “Dan jiwa serta penyempurnaan (ciptaanNya)”, pengertian mengenai hal itu hanya sebatas ungkapan bahasa yang di dapat dari logika akal, sehingga banyak yang tidak mengetahui apa yang di sebut sebagai jiwa manusia.

Pada hakekatnya jiwa merupakan kehidupan manusia di alam ukhrowiyah yaitu alam kekekalan walaupun dalam prosesnya berada di dunia yang merupakan alam kefanaan, dan jiwa perlu untuk menyempurnakan dirinya agar dapat mengenal dan mengerti tentang hidupnya, namun proses dari penyempurnaan dari jiwa sangatlah berbeda dengan jasmani walaupun berada di tempat yang sama.
Wujud dari penyempurnaan jiwa adalah sebuah jalan yang diibaratkan Tuhan sebagai jalan yang terjal dan mendaki karena seolah-olah didalamnya adalah kesusahan, ini merupakan gambaran awal dari proses perjalanan manusia menuju penyempurnaan dari jiwa tersebut. Dalam menjalankan proses kehidupan, manusia diberikan dua jalan hidup yang berbeda yaitu jalan Duniawi dan Ukhrowi, pada proses awal manusia tidak mungkin untuk melangkah secara bersamaan, maka kita harus dapat menentukan jalan mana yang harus kita lalui untuk dapat mencapai tingkat kemuliaan sebagai manusia.

C. Jalan Jasmani.

Jalan yang pertama merupakan jalan hidup yang mengedepankan sifat jasmani, dengan segala kemampuannya jasmani memang diperuntukkan untuk mengelola dan mengembangkan dunia yang ditempati agar dapat digunakan sesuai keinginan dari manusia, karena yang dapat mengetahui cara untuk menata dan menjadikan dunia ini sebagai tempat yang menyenangkan hanyalah manusia, inilah keutamaan jasmani manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya.

Sifat dari duniawi sudah diberikan Tuhan kepada manusia lewat hatinya yang berupa “nafsu” dan merupakan hakekat dari dunia yang ditempati agar apa yang ada di dalam dunia walaupun awalnya belum berbentuk apapun namun karena dengan hidupnya nafsu manusia dapat mengerti bagaimana cara untuk mengolah dan menciptakan bentuk-bentuk dari isi dunia ini sehingga menjadi sesuatu yang berguna dan bernilai tinggi, ini dapat terjadi karena nafsu manusia.
Seperti bentuk dari emas yang awalnya hanyalah sebuah benda yang tidak memiliki bentuk dan nilai, namun setelah hati mengisi emas dengan sifat kesenangan yang ditimbulkan oleh nafsu maka terbentuklah benda yang dapat di pakai sebagai perhiasan dan bernilai tinggi, ini terjadi karena nafsu manusia sendiri yang memberikan sifatnya kepada benda tersebut, sehingga lama kelamaan hati manusia terikat oleh daya yang ditimbulkan dari benda yang bernama emas, maka ketika ikatan tersebut di paksa untuk dilepaskan darinya akan terasa ada yang hilang dan perasaan yang kurang menyenangkan di dalam dirinya.

Demikianlah salah satu contoh jalan kehidupan dari jasmani manusia karena sifat dan isi yang mendayainya adalah dunia maka apa yang ditemukan dalam proses hidup ini hanya menghasilkan ilmu tentang keduniawian. Jalan hidup manusia lewat jasmani adalah pilihan yang diberikan Tuhan kepada manusia dalam proses hidupnya dan merupakan jalan yang banyak di tempuh oleh kebanyakan manusia sekarang untuk hidupnya di dunia, ini karena manusia sekarang hanya mengetahui jalan jasmani dalam proses penyempurnaan.
Ketika kita memilih duniawi untuk jalan hidup menuju pendewasaan dengan sungguh-sungguh menggunakan fungsi jasmani maka yang mengisi kepribadian adalah bentuk dan sifat dari dunia, seperti halnya jika manusia sering berhubungan dengan uang maka sifat dari uang tersebut akan menguasai perasaan dan akal pikiran, sebagaimana sifat dari uang yang dapat digunakan pemiliknya untuk membeli sesuatu dan mewujudkan keinginan dari manusia, semakin banyak jumlah uang yang dimiliki maka semakin besar pula keinginan yang ditimbulkan untuk dapat menguasai dan memiliki apa yang menjadi keinginan dari perasaannya.

Ini terjadi karena dorongan dari sifat benda yang mengisi uang tersebut, lama- kelamaan ikatanpun terbentuk di dalam perasaan karena terlalu sering berhubungan dan hampir seluruh hidupnya digunakan untuk mencari dan mendapatkan uang tersebut, tanpa disadari isi dari pribadinya sudah dikuasai oleh sifat benda. Jalan hidup yang mengutamakan jasmaniah memang demikian adanya karena hakekat duniawi adalah nafsu yang menempati hati, itulah bagian yang telah ditetapkan oleh Tuhan untuk manusia sebagai penguji hidupnya di dunia, nafsu dengan segala pesertanya memang diperuntukkan untuk mencapai kesempurnaan jasmani agar bisa mengelola kebutuhan yang diperlukan untuk hidupnya di dunia sampai batas yang telah ditetapkan untuk jiwa sebelum kembali kepada Tuhan YME.
Tanpa disadari manusia telah menggunakan nafsu dan jasmani bukan hanya untuk keperluan duniawi namun sudah difungsikan melampaui batas kemampuannya dalam urusan keTuhanan, karena jasmani manusia hanya sebagai alat dari ruhani untuk mengenal kehidupan di dunia, jadi jasmani manusia hanya bisa untuk menerima ilmu keduniawian dengan cara belajar dan mencari dengan memaksimalkan akal pikiran dan bersungguh-sungguh dengan apa yang dipelajarinya, sampai mengerti dan mengetahui bagaimana cara untuk mewujudkannya, ini yang disebut sebagai ilmu pengetahuan.

Garis besar dari jalan ini adalah manusia dalam mencari kesempurnaan hidupnya yang dilakukan dengan cara memaksimalkan fungsi dari jasmaninya agar dapat mencapai tingkat tertentu di dunia yang berdasarkan kehendak dari nafsu yang bersemayam dalam hati dan akal pikirannya, kebanyakan manusia sekarang hanya menggunakan jasmani sebagai alat untuk keperluan hidupnya di dunia dan untuk akhirat karena ketidaktahuannya, tanpa disadari proses itupun dilakukan untuk mencari jalan menuju Tuhan dengan memaksimalkan usaha dari jasmani manusia selama hidupnya di dunia dengan harapan apa yang dilakukan dapat mengerti tentang hakekat dari kehidupan ukhrowiyah, oleh sebab itu banyak yang tidak mengetahui kebenaran dari setiap ibadah yang dikerjakan karena hanya sekedar menjalankan apa yang dipelajari saja. Demikianlah sesungguhnya jalan dari jasmani jika manusia memahami maksud dan tujuan serta mengerti makna sebenarnya dari nafsu yang diberikan kepada manusia hanyalah sebagai alat bagi jiwa untuk dapat mengelola dunia ini bukan untuk mengerti dan mengetahui hakekat dari alam ukhrowi.

D. Jalan Ruhani.

Merupakan suatu jalan lainnya untuk manusia yang diberikan Tuhan sebagai pilihan hidup di dunia, pada hakekatnya Tuhan tidak pernah memaksakan kehendak kepada semua makhluk yang diciptakanNya salah satunya adalah manusia yang hakekatnya tidak pernah dipaksa untuk menuruti apa yang diperintahkan, namun semua itu dikembalikan kepada manusia itu sendiri, karena pada hakekatnya Tuhan tidak memerlukan pengakuan dari manusia dan makhluk yang lain tentang keberadaanNya.

Pada dasarnya apa yang diperintahkan kepada manusia merupakan suatu kebutuhan yang diperlukan untuk kelangsungan hidupnya sendiri agar tidak merendahkan pribadinya yang menyebabkan rusaknya susila dalam kehidupan sehari-hari, yang berdampak pada rusaknya tatanan kehidupan di dunia karena rendahnya pribadi manusia, dengan sifat yang demikian maka tidak lagi dapat mengetahui kebenaran dari apa yang dilakukan. Terjadinya hal yang demikian itu karena kesalahan dari awal ketika manusia diberikan pilihan jalan untuk hidupnya hanya menempuh jalan dari sisi jasmani dan menuruti kemauan dari nafsu kehendaknya sendiri, dengan menciptakan kebenaran pada tingkatnya masing-masing berdasarkan pengakuan pribadinya.

Hal ini terlihat sangat jelas pada masa sekarang dengan banyaknya perbedaan-perbedaan yang menyebabkan perselisihan di antara sesama manusia hanya karena kebenarannya tidak diakui, sehingga terjadilah perpecahan di antara mereka dengan membentuk kelompoknya masing-masing agar apa yang menjadi pemikirannya dapat diikuti, dengan membenarkan kelompoknya masing-masing dan menyalahkan lainnya.
Hal ini terjadi karena kebenaran yang diterapkan oleh manusia sekarang hanya berdasarkan kepandaian dari hati dan akal pikirannya saja tanpa mengetahui hakekatnya, demikian jika manusia menjadikan ilmu pengetahuan yang di dapat dari pembelajaran jasmaniahnya untuk menerjemahkan firman Tuhan hanya dengan mengedepankan kepandaian akal pikir.
Yang kedua adalah jalan hidup yang lebih mendahulukan sisi dalam dari pribadi manusia yaitu ruhani, dalam prakteknya untuk menempuh jalan ini kebanyakan manusia tidak mengetahui cara untuk memulainya, disebabkan kurang adanya pengertian yang jelas bagaimana sifat ruhani dan tentang keberadaannya walaupun hakekatnya ada di dalam tempat yang sama, karena penjelasan mengenai hal itu hanya sebatas penyebutan nama dari ruhani namun untuk penjabaran lebih jauh tentang wujud dan eksistensinya dalam pribadi manusia yang sebenarnya jarang sekali yang menjelaskan bagaimana sesungguhnya hidupnya ruhani pada jasmani manusia dan wujud dari kebangkitan tersebut, karena ruhani adalah sifat hidupnya ruh di alam ukhrowi yang bersemanyam dalam tubuh/jasad manusia.

Kita tahu bahwa badan manusia yang disebut jasmani merupakan sifat duniawi dalam prosesnya akan mengalami kematian atau rusak seiring dengan bertambahnya usia dan mengalami penuaan karena tidak bersifat kekal, namun ruhani adalah jiwa dan hakekat dari manusia, jiwa manusia diciptakan oleh Tuhan jauh sebelum jasmani manusia dilahirkan ke dunia, karena hakekat dari jiwa manusia adalah ruh dari semua makhluk di alam semesta ini dan sifat jiwa adalah kekal.
Kembali pada pilihan jalan kedua dari manusia yaitu jalan keruhanian, sesudah jiwa diturunkan ke dunia dan ditempatkan pada badan jasmani manusia saat usia 3 bulan di dalam alam kandungan maka proses awal sudah mulai berjalan, tapi mengapa jiwa ditempatkan pada jasmani yang merupakan tempat bagi nafsu, bagaimana manusia bisa menjadi khalifah jika tidak ada ujian yang nyata untuk dihadapi sehingga pantas bagi manusia untuk menjadi seorang pemimpin karena memang proses hidup yang dijalani tidaklah mudah dalam kehidupannya, inilah bukti kasih sayangnya Tuhan kepada manusia dengan menunjukkan kepada makhluk lain bahwa yang dihadapi seorang khalifah adalah tantangan hidup yang berat dan nyata yaitu duniawi, bukan hanya duniawi yang terlihat pada pandangan mata namun jasmani yang ditempati oleh jiwa merupakan sifat dan isi dari dunia itu sendiri.

Dalam menjalani proses penyempurnaan hidupnya jiwa sudah dihadapkan dengan pertentangan dari dalam, karena sifat dunia lebih dekat dengan nafsu maka lambat laun jiwa mulai terbawa dan menjadi bagian dari nafsu, ini disebabkan karena manusia tidak mengetahui bagaimana cara untuk menjadikan jiwa sebagai penguasa pada kehidupannya.
Jalan hidup ruhani merupakan perwujudan alam ukhrowiah yang dinampakkan di dunia, namun karena berada pada badan jasmani maka ada batasan untuk jiwa dalam menerima pandangan kehidupan ukhrowi, memang demikianlah kehendak yang telah ditetapkan Tuhan kepada jiwa tersebut sebagai penguji proses pendewasaannya, dalam mencapai kesempurnaan hidup jiwa harus dapat menundukkan nafsu yang menjadi alat pesertanya di dunia sampai terbuka batas antara alam duniawi dan alam ukhrowi, sehingga jiwa mengerti tujuan hidup yang telah ditakdirkan.

Tuhan memberikan kepada jiwa sebuah kehidupan di dunia agar dapat menyempurnakan dirinya untuk mencapai tingkatan mutmainnah (ketenangan) sampai batas yang sudah ditetapkan kepadanya, dan untuk mencapai kesempurnaannya jiwa harus menggunakan jasmani untuk menjalani kehidupan ini karena itulah tempat bagi jiwa agar dapat sampai kepada tujuan yang diharapkan. Untuk dapat menempuh jalan ruhaniah manusia harus belajar untuk mengerti bagaimana sifat dunia yang berada pada jasmaninya, agar dapat menemukan cara untuk mengendalikan gerak hati dan akal pikiran yang terdayai oleh nafsu, karena untuk menuju hidupnya ruhani manusia harus bisa mengendapkan keinginan hatinya dalam urusan duniawi. Sikap yang demikian itu tidaklah mudah untuk dilakukan karena dorongan yang ditimbulkan oleh nafsu begitu kuat atas pribadi kita kepada dunia ini.

Hakekat dari nafsu tidak ingin lepas dari manusia, karena hubungan yang terjalin sudah begitu kuat antara manusia dan nafsu duniawi, sehingga terasa pada pribadi kita ada yang hilang jika manusia dijauhkan dari sifat dunia, nafsu tidak mau untuk menerima begitu saja jika pribadi melepaskan hubungan tersebut. Begitu beratnya jalan menuju kebangkitan ruhani sehingga tidak banyak manusia yang memilih untuk melalui jalan tersebut, karena ada rasa kawatir akan hilangnya kemuliyaan jasmani yang berdampak pada keterbatasan finansial dan merasa takut dengan berkurangnya kebutuhan hidup sehari-hari, inilah dasar dari permasalahan mengapa jiwa jauh dari kenyataan hidupnya karena ada rasa was-was yang dibangkitkan oleh nafsu jika manusia akan menempuh jalan ruhani. Pilihan jalan ruhani adalah hakekat dari hubungan manusia dengan Tuhan, untuk menemukan jalan hidup yang nyata dan merupakan tuntunan hidup langsung dari Tuhan YME melalui jiwa yaitu sebuah pengertian tentang bhaktinya manusia kepada Tuhan yang tidak terdayai oleh nafsu, wujud dari proses yang dijalankan ketika manusia benar-benar memilih jalan ini adalah dengan mengurangi keinginan yang timbul dari hati dan akal pikiran apapun bentuk dan sifatnya.

Manusia sebenarnya sudah diarahkan untuk menjadikan ruhani sebagai pilihan hidup yang utama di dunia ini agar kehidupannya sesuai dengan kehendak Tuhan, jika apa yang dikerjakan sehari-hari adalah sebuah tuntunan Ilahi lewat jiwa maka perilaku yang ditimbulkan adalah sebuah kebenaran sehingga berdampak baik pada kehidupan disekitarnya. Dalam mengarahkan hidup manusia Tuhan telah memberikan tutunan agar dilakukan dengan sebaik-baiknya supaya dapat menerima ketetapan bagi hidupnya, dengan diturunkannya Al-Quran merupakan bukti kasih sayang Tuhan kepada manusia agar tidak terlupa dengan ketetapan dan aturan tentang hidupnya di dunia.

Jadi pada hakekatnya apa yang diperintahkan kepada manusia adalah kebutuhan yang diperlukan bagi pribadinya sendiri untuk mencapai kebahagian hidup baik di dunia dan nanti setelah meninggalkan dunia yang disebut sebagai kewajiban manusia kepada Tuhannya, di dalam agama Islam hukum terbagi menjadi beberapa sifat, salah satunya adalah Wajib, itu merupakan aturan yang diberikan agar manusia mengerti tujuan dan pelaksanannya, lalu apa pengertian dari hukum wajib itu, wajib adalah perintah yang harus dikerjakan tanpa ada alasan untuk tidak melakukan bagaimanapun keadaan manusia itu, karena wajib dalam arti sesungguhnya adalah “Dipaksa“ untuk melakukan, sebab tanpa ada pemaksaan untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia, maka perintah tersebut tidak akan dilaksanakan, karena sifat dari nafsu adalah perintang bagi jiwa dalam proses pendewasaannya, oleh sebab itu diperlukan sebuah aturan agar nafsu menjadi takut dan mau menuruti keinginan dari jiwa dalam bhaktinya kepada Tuhan YME.

Perintah yang diwajibkan atas manusia diperlukan agar jasmani mencapai titik kesadaran, seperti kewajiban manusia untuk mendirikan shalat lima waktu supaya jasmani tunduk dan sadar tentang fungsinya di dunia hanya sebagai tempat bagi jiwa untuk mencapai kesempurnaan, sampai terbiasa dalam menjalankan shalat tersebut dan menemukan kesadaran sehingga dalam pelaksanaannya tidak lagi merasa seperti dipaksakan. Dengan bangkitnya kesadaran dari jasmani yang diawali dengan memaksakan dirinya untuk menjalankan apa yang menjadi kewajiban bagi hidupnya maka lama kelamaan akan terbiasa dengan perilaku hidup yang baik dan mengarah kepada jalan ketenangan dengan tidak lagi terlalu menuruti gerak dan kehendak dari nafsunya, sehingga mulai mengerti kebutuhan dari jiwa yaitu berbhakti kepada Tuhan YME dengan sungguh-sungguh tanpa ada lagi perasaan dipaksa dalam menjalankannya inilah yang di sebut sifat dari “Sunnah”, jadi maksud dari Sunnah adalah “Kebutuhan”. Ini yang kemudian menjadi jalan bagi jiwa untuk dapat menguasai nafsu walaupun dengan perlahan dan terwujud melalui jasmani, di karenakan manusia sudah merasa bahwa pribadinya memang membutuhkan untuk dapat berbhakti kepada Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar