Rabu, 30 Juni 2021

Sabar Tawakal Ikhlas

SABAR-TAWAKAL-IKHLAS

Penulis ; Machrus Budinoer



Kata pembuka dari penulis
Assalaamu’alaikum warakhmatullaahi wabarakaatuh.
Alkhamdulillahirabbil‘alamin, puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan YME yang selalu memberikan rahmat dan hidayah serta bimbingan kepada kita, sehingga di dalam hidup ini kita sebagai manusia selalu diberi kesempatan dalam memperbaiki kesalahan, walaupun sering kali kita selalu mengulang kesalahan yang sama, namuen karena rasa sayangnya Tuhan yang begitu besar kepada manusia maka kita selalu diberikan waktu untuk dapat memperbaiki tindakan kita yang salah, sampai nanti pada batas yang telah ditetapkan bagi manusia untuk meninggalkan dunia dan kembali kepadaNya.
Syukur alkhamdulillah buku keempat sudah selesai kami tulis yang berjudul Sabar Tawakal Ikhlas, karena tanpa petunjuk dan kemurahan Tuhan YME tidaklah mungkin kami dapat menulis dan menyelesaikan buku ini, maksud dari penulisan buku ini karena kebanyakan manusia sekarang hidup dalam naungan dari nafsunya, sehingga petunjuk yang diperoleh hanya sebuah gambaran yang ditimbulkan dari hati dan akal pikirannya, oleh sebab itu maka manusia hanya dapat mempercayai dari apa yang dapat dilihat dan didengar oleh panca inderanya.

Lewat buku ini kami mencoba untuk menterjemahkan makna dari hidup dengan dasar pengertian yang kami terima, ini hanya salah satu dari ribuan makna yang sudah diberikan oleh orang-orang yang masih peduli dengan kehidupan yang semakin jauh dari kebenaran. Pada kehidupan sekarang yang mana Firman hanya sekedar menjadi bacaan saja tanpa memberikan arti yang jelas bagi kehidupan pembacanya, ini menadakan bahwa agama sudah tidak dianggap penting lagi oleh para pengikutnya. Inilah kenyataan yang harus kita terima bahwasanya manusia sekarang sudah melupakan hakekat hidup dan hanya sekedar menuruti kehendak nafsu yang sudah menjajah kepribadian hidup manusia sehingga apa yang dilakukan dalam kehidupannya sehari-hari hanya sebuah kebohongan. Karena memang begitulah sifat dari nafsu, agar menjadi penghalang antara manusia dengan Tuhannya.

Untuk itu maka kami merasa perlu untuk menuliskan pengertian yang kami dapat, untuk menambah wawasan kita agar manusia lebih mengenal hakekat hidupnya sendiri. Buku yang keempat ini mulai kami tulis pada hari kamis tanggal 01 Juni 2016 di Desa Sekuro Kec. Mlonggo Kab. Jepara, semoga dengan adanya buku ini akan menambah pengertian baru bagi kita dalam mengenal dan mengetahui kenyataan dari hidup kita.
Demikian pengantar dari kami semoga Allah SWT selalu memberikan keberkahan hidup kepada kita semua, dan kami mohon maaf apabila di dalam buku yang kami tulis ada hal-hal yang di rasa tidak tepat kami hanya menyerahkan saja semua kepada Allah SWT, karena hakekat kebenaran hanya Allah yang dapat mengetahui, kurang lebihnya kami sampaikan terima kasih.
Wassalamu’alaikum warakhmatullahi wabarakaatuh.
Jepara, 13 Juni 2016





“Sabar Tawakal dan Ikhlas merupakan hakekat dari hidupnya jiwa manusia yang sudah terisi Ruh Ilahiyah”.
    Manusia adalah makhluk yang tidak bisa hidup sendiri, tapi membutuhkan bantuan dari orang lain agar dapat mencukupi dan mengatur kehidupannya, telah ditetapkan kepada manusia bahwa sebagai makhluk yang memerlukan bantuan dan pertolongan, maka seharusnya manusia lebih mengedepankan kebijaksanaan dalam besikap dan berperilaku kepada sesama manusia. Itu merupakan dasar dari hidup yang seharusnya ditanamkan dalam kepribadian kita.

    Pada kehidupan sehari-hari manusia tidak bisa lepas dari peraturan dan norma kehidupan yang berlaku di masyarakat, sehingga dalam mensikapinya diperlukan kepribadian yang terbuka yaitu terbuka dengan keadaan dirinya, baik keadaan yang baik maupun keadaan yang kurang baik menurut hati dan perasaan, sesuai dengan judul dari tulisan ini yaitu Sabar Tawakal Ikhlas, kita akan mulai membahasnya. Sabar Tawakal dan Ikhlas merupakan bahasa atau perkataan yang biasa diucapkan dan disampaikan serta sering kali kita mendengarnya, biasanya disampaikan kepada pribadi kita maupun kepada orang yang sedang mengalami keadaan hidup yang kurang mengenakkan, hal ini biasa terucap dari orang yang simpati dan mengetahui keadaan dari sesamanya ketika sedang menghadapi suatu permasalahan, agar orang tersebut lebih kuat dan selalu bersyukur dengan apa yang telah ditetapkan oleh Tuhan YME kepada dirinya.

    Tapi pertanyaannya adalah apakah hakekat dari Sabar Tawakal dan Ikhlas tersebut? bagaimana keadaan manusia saat menerima itu, bagaimana keadaan pribadi kita, dari mana sifat tersebut dan bagaimana kita bisa melakukannya?.
Mungkin banyak orang yang menganggap pertanyaan itu hanya mengada-ada saja, tapi pada kenyataannya sabar tawakal dan ikhlas merupakan kunci perjalanan manusia agar dapat bertahan dalam menghadapi ujian dan tantangan hidup, juga untuk kebutuhan manusia dalam hubungannya dengan Tuhan YME, jadi begitu pentingnya ketiga hal tersebut, karena tanpa itu semua maka apa yang kita kerjakan dan lakukan tidaklah memberikan hasil apapun.

    Tapi kebanyakan dari kita, itu hanya merupakan ungkapan bahasa sehari-hari dan tidak memberikan dampak apapun bagi pribadi manusia itu sendiri, dalam prakteknya kesabaran ketawakalan dan keikhlasan itu hanya sebagai sikap ketidakberdayaan akal dan hati dari manusia untuk dapat melakukan tindakan untuk melawan keadaan tersebut, sehingga pada akhirnya kita berlaku seperti sikap sabar dalam menerima itu semua.
Demikianlah sikap yang dilakukan oleh kebanyakan manusia sekarang ini yang hanya mengedepankan kata-kata dan memaksakan diri untuk mengikuti kemauan dari akal dan hatinya, sehingga dalam mensikapi permasalahan hidup hanyalah ungkapan kebohongan dirinya saja.

    Ini sudah sering terjadi di kehidupan sehari-hari, bagaimana sikap dari manusia sekarang ini dalam menghadapi hidup yang dijalaninya, kita sering melihat dan mendengar banyak sekali manusia melakukan tindakan yang sangat bertentangan dengan susila, hanya karena permasalahan yang tidak dapat diselesaikan sehingga melakukan segala hal walaupun tindakannya tersebut melanggar norma-norma yang ada, tanpa melihat bahwa apa yang dilakukan merupakan suatu tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Mungkin saja permasalahan yang dihadapi sudah berlangsung lama dan tidak tahu bagaimana menyelesaikan dan menerima saja dengan sikap yang seakan-akan adalah suatu kesabaran ketawakalan dan keikhlasan, namun kebohongan dari pribadi yang demikian pada akhirnya akan terbuka dengan sendirinya, bahwa apa yang dilakukan itu belum sampai pada hakekatnya, sehingga menyebabkan manusia tersebut melakukan tindakan yang tidak semestinya, lalu apa yang salah dari sikap kita selama ini dalam memaknai dan memahami arti dari hal tersebut?.

    Sebelum melangkah lebih jauh marilah kita mundur kebelakang, mengenai sikap dan perilaku manusia kepada Tuhan YME, karena itu merupakan pondasi agar manusia dapat melangkah lebih jauh dalam menjalani kehidupannya di dunia, karena tanpa mengetahui bagaimana manusia itu dalam mendekatkan diri kepada Tuhan YME maka tidak mungkin dapat menemukan kenyataan hidup bagi pribadinya, tanpa tahu hakekat hidup maka tidak mungkin manusia menemukan jalan bagi kelangsungan hidupnya.

    Namun demikian sedikit sekali pemahaman manusia tentang keadaan ini, dan sudah berlangsung lama bahkan terkadang sampai meninggal dunia manusia tidak mengerti bagaimana caranya manusia berbhakti dan mengetahui jalannya menuju Tuhan YME yang disebut ibadah, dengan tidak mengetahui cara berbhakti maka tidaklah mungkin manusia dapat mengerti hakekat hidup.
Tidak dipungkiri bahwa sebagai manusia yang beragama tentu berkewajiban untuk menjalankan aturan-aturan yang terkandung di dalam ajaran agama tersebut, kalau kita beragama Islam maka ibadah yang dilakukan adalah sesuai dengan tuntunan yang telah diberikan Allah SWT melalui Nabi Muhammad SAW, yaitu dengan bersyahadat, sholat, puasa, zakat dan menunaikan haji, demikian ajaran dari agama Islam. Apa yang telah diajarkan oleh Nabi sudah cukup untuk manusia sebagai bekal dalam menjalani kehidupan baik di dunia maupun nanti setelah meninggalkan dunia.

    Lantas bagaimana cara melaksanakan ibadah kepada Tuhan YME yang betul sehingga dapat memberikan dampak nyata pada pribadi manusia, kita tentu sering melihat dan mendengar banyak sekali kemungkaran yang terjadi dimana-mana, yaitu kemungkaran yang nyata di sekitar kita, mereka melakukan itu semua tanpa ada rasa malu bahwasannya apa yang dikerjakan merupakan keburukan dan berdampak tidak baik untuk dirinya dan juga orang lain. Adanya tindakan yang jauh dari susila tersebut dilakukan oleh orang yang beragama, dan merekapun dalam kesehariannya sudah menjalankan syariat yang ditetapkan, tapi kenapa ibadah yang dikerjakannya tidak dapat mempengarui pribadinya agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan dari syariat agamanya. Ibadah yang dikerjakan pada kesehariannya seperti shalat, puasa bahkan ditambah dengan amalan dzikir setiap selesai melakukan shalat, namun kemungkaran itupun dilakukannya kembali setelah melakukan bhaktinya kepada Tuhan, lantas apa yang salah dari ibadahnya?.

    Pada kenyataannya kita sebagai manusia dalam belajar tentang agama dimulai dan dikenalkan dengan syariat atau sesuatu yang dapat kita lihat dan kita dengar saja, dari proses tersebut manusia mengetahui ilmu agama di tempat-tempat pembelajaran dengan bimbingan orang yang pandai dalam bidangnya.
Tentu saja ini diperlukan kesungguhan saat menimba ilmu yang telah diberikan oleh para pembimbing agar nantinya kita benar-benar dapat memahami syariat dari agama, dan ini merupakan awal yang baik untuk manusia agar dapat mengetahui apa saja ajaran-ajaran dalam agama sehingga bisa menjadi pedoman untuk manusia dalam melaksanakan fungsinya di kehidupan ini.

    Pelajaran yang diterima di awal merupakan modal bagi kita untuk dapat melangkah lebih jauh dalam mengenal dan mengerti hakekat tentang agama dan bagaimana kenyataan suatu ibadah agar apa yang dikerjakan tidak menjadi suatu hal yang sia-sia, lantas apa kita berhenti disitu?.
Apa kita sudah puas dengan apa yang kita dapat hafal dan banyaknya buku yang dibaca sehingga bertambah pula pengertian mengenai hal itu, sehingga merasa bahwa kita sudah cukup pandai untuk mengetahui kebenaran dari agama dan mengerti cara berbhakti yang benar kepada Tuhan YME. Kalau demikian maka kita sebagai manusia sudah jauh dari sebuah kebenaran yang ditetapkan, dan pada kenyataannya kita tidak benar-benar mengerti, karena apa yang kita pahami dari ilmu agama pada tingkat syariat merupakan sebuah awal dari sebuah rencana besar yang akan kita bangun kedepannya.

    Dan syariat merupakan modal pertama yang harus disiapkan agar nanti kita sebagai manusia tidak terlalu berat dalam menyelesaikan tugas yang lebih besar, syariat merupakan pedoman bagi akal dan hati manusia agar lebih paham dengan keadaan hidup yang berkeTuhanan, untuk itu maka para ulama-ulama besar agama islam selalu mencari cara agar dapat lebih mengetahui tentang hakekatnya ibadah dan hakekat dalam berbhakti kepada Tuhan YME.

    Kemudian banyak sekali para ulama yang menemukan jalannya masing-masing dalam mendekatkan diri kepada Tuhan, seperti adanya ajaran Thoriqoh, Tasyawuf, dan lain sebagainya, para ulama sadar bahwa apa yang selama ini dikerjakan yang berhubungan dengan bhakti kepada Tuhan tidak hanya seperti itu, para ulama memahami sifat dari syariat merupakan manifestasi dari akal dan hati manusia saja, yang di dapat dari pembelajaran di tempat-tempat yang diperuntukkan untuk itu. Namun itu tidaklah cukup bagi pribadi manusia, karena jika manusia hanya mengerti dari akal dan hati saja maka ilmu itu bukanlah suatu hal yang abadi, karena sifat dari akal dan hati adalah fana/dapat rusak, maka tentu saja apa yang diketahui dari sisi tersebut akan rusak dan hilang pula.
Demikianlah maka jika manusia memahami arti bhakti kepada Tuhan hanya dari sisi syariat maka di dalam menjalani kehidupannya manusia hanya menemukan lapisan terluar dari ilmu yang sebenarnya, lalu kenapa para ulama masih mencari jalan yang lain untuk dapat lebih mengerti tentang hakekat? lalu Apa Thoriqoh atau Tasawuf itu?.

    Para ulama mengetahui bahwasanya manusia diciptakan Tuhan dari dua hal yang berbeda dan pada awalnya keduanya tidaklah hidup dalam tempat yang sama, yang di sebut Jasmani/jasad dan Rohani/jiwa, dan itu bukanlah seperti yang sering dikatakan kebanyakan orang bahwa jasmani adalah badan manusia serta rohani adalah hati dari manusia, jadi seakan-akan keduanya merupakan hal yang sama sehingga perlakuan diantara keduanya pun sama, kemudian hal itulah yang di tolak oleh para ulama-ulama sufi, bahwa jasmani dan rohani merupakan dua hal yang berbeda, diantara keduanya pun membutuhkan hal yang berbeda untuk kebutuhan hidupnya dalam perjalanan di dunia ini. Karena ketidaktahuan kita apa yang ada di dalam pribadi kita serta tidak mengetahui dan mengenal keberadaannya, oleh sebab itu dalam perjalanannya manusia banyak sekali melakukan kesalahan yang tidak disadari.

    Ini karena kita sebagai manusia lebih mengedepankan akal dan hati yang merupakan isi dari jasmani untuk mengatur kehidupan, terlebih lagi akal dan hati sudah di pakai melampaui batas kemampuannya yaitu untuk mengenal Tuhan, apakah dengan menghafal dan mengetahui dari mendengar serta membaca cukup bagi akal dan hati untuk dapat mengetahui kebenaran yang hakiki? sedangkan kita tahu bahwa pada akhirnya jasmani akan rusak saat manusia meninggalkan dunia.

    Kebanyakan manusia dalam melakukan ibadahnya kepada Tuhan hanya sebatas kewajiban yang harus dikerjakan, tanpa mau menggali apa sebenarnya ibadah itu, saya contohkan salah satu ibadah wajib bagi umat islam yaitu shalat, kita dalam sehari semalam paling sedikit mengerjakan shalat sebanyak 5 kali yang berjumlah 17 rakaat, dan itu merupakan yang wajib untuk dilakukan, jadi pada hakekatnya kalau kita sadar dalam sehari semalam manusia bertemu dengan Tuhannya sebanyak 5 kali.

    Lalu pertanyaannya adalah apa yang kita dapatkan dari shalat itu? Bagaimana rasa dari pribadi kita saat hadir dihadapan Tuhan? apakah cukup seperti itu kita shalat tanpa mengerti dan merasakan apapun, bagaimana rasa dari takbir, bagaimana rasa dari rukuk dan bagaimana rasa dari sujud?. Itulah yang dikatakan bahwa sesungguhnya akal dan hati manusia tidak dapat mengerti dan mengetahui cara bhakti kepada Tuhan, walaupun dalam kenyataannya sudah benar-benar menjalankan apa yang diperintahkan namun hakekatnya hanya sebuah kekosongan saja. Begitulah kenyataannya bahwa sebagai manusia memang tidak mudah dalam menjalankan tugas yang sudah ditetapkan baginya, untuk menjadi pemimpin di muka bumi ini.

    Akal dan hati yang berisi sifat/daya dari nafsu sejatinya hanya difungsikan untuk mengelola dan mengembangkan dunia yang ditempati agar bisa berguna bagi jasmaninya, dan untuk hubungan dengan Tuhannya manusia seharusnya menggunakan sisi ruhani/jiwa yang bersemayam di dalam pribadinya, namun tidak pernah tersentuh karena ketidaktahuan manusia tentang ruhani/jiwa tersebut. Para ulama mulai mengerti bahwa apa yang dikerjakan akal dan hatinya hanya kekosongan saja, maka mereka mulai mencari bagaimana seharusnya bhakti kepada Tuhan yang betul itu, maka munculah ajaran-ajaran seperti Thoriqoh, Tasawuf dan sebagainya.

    Pada hakekatnya thoriqoh merupakan salah satu jalan untuk berbhakti kepada Tuhan dengan tidak mengedepankan akal dan hati, namun lebih kepada rasa diri dalam melakukan ibadah, jadi apa yang dirasakan saat manusia berdzikir kepada Tuhan, sampai menemukan hakekat dzikir yang sebenarnya. Ini merupakan jalan yang lebih baik dari sebelumnya, sehingga ibadah yang dilaksanakannya sudah mulai mengisi pribadi dengan rasa yang tenang dan tentram. Namun jika tidak disadari manusia yang melakukan ajaran thoriqoh juga akan terjebak oleh nafsunya sendiri, kita tahu ajaran thoriqoh adalah memperbanyak berdzikir dengan menyebut asma Tuhan sebanyak-banyaknya baik dengan cara mengingat dan merasakan setiap waktu, namun karena cara berdzikir yang banyak inilah maka kebanyakan orang yang menekuninya terjebak dalam hitungan, sehingga membangkitkan akal dan hatinya lagi.

    Lama kelamaan rasa yang sudah terbangkitkan karena ketenangan dalam menjalankan ibadah lambat laun akan tertutup kembali, ini terjadi karena apa yang kita lakukan sudah kembali terdayai oleh sifat dari jasmani. Di dalam thoriqoh sedikit demi sedikit manusia mulai dikenalkan dengan sifat dari ruhani/jiwa, karena dalam pelaksanaan ibadahnya thoriqoh lebih masuk dalam sifat rasa, walaupun sifat dari dzikir yang dilakukan masih terpola oleh akal pikiran dengan cara memasukkan dalam pribadi yang bersemayam di jasmani sampai menemukan getaran dari rasa.

    Diharapkan dengan keadaan dzikir yang demikian itu dapat membuka ruhani yang tertutup oleh nafsu, sehingga dengan bangkitnya ruhani/jiwa maka manusia sudah mulai menemukan jalan hakekat ke Tuhan YME dan mulai menemukan kenyataan dari ibadah yang sesungguhnya.
Pada fase ini manusia mulai dikenalkan dengan yang namanya hakekat hidup bukan lagi syariat maupun thoriqoh, karena dengan terbukanya ruhani/jiwa yang ada dalam jasmani maka apa yang dikerjakan di dalam ibadahnya kepada Tuhan merupakan sesungguhnya ibadah, namun perlu dipahami bahwasanya awal kebangkitan dari jiwa merupakan proses pertama dalam hidupnya jiwa tersebut dan bisa dikatakan baru terlahir/hidup.

    Dalam proses pendewasaan kehidupan dari ruhaniah/jiwa manusia tidaklah sama dengan hidupnya jasmaniah sehingga apa yang dibutuhkan antara keduanya pun berbeda, lalu bagaimana cara agar proses hidup dalam mengenal Tuhan YME merupakan sebuah proses yang sesungguhnya, bukan hanya sekedar mengetahui sisi luarnya saja? Diawali dengan berdzikir dengan menyebut asma Tuhan YME, apa yang dimaksud dengan dzikir?. Dzikir adalah pengakuan manusia atas ketidakmampuan dalam segala hal dan tidak berkuasa atas apapun juga pada kehidupannya di dunia dan nanti setelah meninggalkan dunia, dzikir juga berarti pengakuan pribadi manusia atas ke Esaan Tuhan dan menjadi tempat bergantung untuk dirinya.

    Di sini jasmani hanya menjadi sarana bagi jiwanya dalam mendekatkan diri dengan menjalankan sesuai syariat, namun pada pelaksanaannya rasa sangat penting untuk dapat mengerti hakekat dari dzikir yang kita ucapkan. Kenapa dzikir yang sering kita lakukan di setiap waktu tidak dapat memberikan dampak yang nyata pada pribadi kita, padahal dalam proses dzikir kita hakekatnya sedang berhadapan dengan Tuhan, namun kita tidak merasakan kehadiranNya dan kita pun tidak merasa bahwa kita berada dihadapan Tuhan.

    Ini karena saat melakukan ibadah tidak berada pada kesadaran yang mutlak, manusia kebanyakan masih diperdaya oleh sifat nafsu yang bersemayam di hati dan akal pikiran manusia yang selalu ingin diikuti kehendaknya, agar apa yang dikerjakan tidak menyentuh ke dalam rasa diri sehingga lambat laun akan membangkitkan jiwa yang berada di dalam pribadi, dengan bangkitnya jiwa manusia maka kedudukan dari nafsu yang selama ini menguasai manusia akan tergeser kedudukannya.

    Inilah yang terjadi selama ini bahwa pada hakekatnya manusia hidup hanya menggunakan kehendak dari nafsu yang menguasai hati dan akal pikirannya, hingga kita sebagai manusia terlupa bahwa kita sudah menggunakan sisi yang salah untuk mendekat dan mengenal Tuhan YME. Bukti nyata dari pengaruh nafsu adalah apapun yang kita lakukan selalu dengan harapan dan balasan dari Tuhan YME, atas apa yang telah kita perbuat dan lakukan, bukan karena kebutuhan yang memang diperlukan untuk manusia itu sendiri. Jadi saat berdzikir dan mendekat kepada Tuhan maka kita seharusnya berada dalam kesadaran yang mutlak, untuk mencegah hati dan akal pikiran menguasai pribadi kita, sehingga dalam dzikir kita bisa masuk dalam tingkatan khusuk yaitu “Tentram”.

    Adapun tentram itu berada dalam rasa diri manusia yang sudah dalam ketenangan dan tidak terpengaruh oleh sifat dari nafsu, jadi ketika berdzikir rasakanlah apa yang kita ucapkan dengan tenang sampai merasakan perubahan rasa di dalam diri, yaitu rasa yang mungkin belum pernah kita rasakan sebelumnya, sampai ke dalam ketentraman mutlak yang bangkit bukan dari nafsu.

    Seumpama kita berdzikir ”Laaila ha illallah” maka dengan sadar kita mengakui ke Esaan Tuhan dan yakin dengan sungguh-sungguh bahwa tiada yang kita sembah selain Allah SWT dan tiada penolong selain Dia, jika beristighfar maka dengan bersungguh-sungguh kita mengakui segala kesalahan dengan tenang dan dirasakan di dalam pribadi sentuhan dari Tuhan lewat jiwa kita. Ini bisa dinyatakan kalau kita dalam melakukan itu sudah melepaskan semua ikatan-ikatan dengan duniawi karena itulah penghambat hubungan antara ruhani/jiwa manusia dengan Tuhan YME, karena dunia adalah sifat dari nafsu yang bersarang di hati dan akal pikiran manusia. Pada hakekatnya ibadah yang dilakukan manusia kepada Tuhan seharusnya ada sesuatu yang namun disaat manusia menjalankan perintah dari yang membuat rasa, justru kita tidak pernah merasakan apapun dengan apa yang kita kerjakan saat beribadah kepadaNya.

    Kehadiran kita hanya sebatas perwujudan dari apa kita dapat dari pelajaran akal pikiran yang sudah diajarkan kepada kita sejak dari kecil dan hanya sebatas hal-hal yang dicontohkan. Hal tersebut yang kita praktekkan dan menjadi prioritas dalam menjalankan ibadah kepada Tuhan YME, tanpa lagi mau menggali dan mencari isi yang terkandung di dalamnya, kalau disimpulkan ibadah kita hanya mengikuti dan menerima saja apa yang telah diajarkan kepada kita, jadi apa yang didapatpun tidak jauh beda dari apa yang diterima dari orang yang mengajarkannya.

    Oleh karena itu maka manusia dalam menemukan hakekat pribadinya akan bertambah sulit dan semakin jauh, ini dikarenakan syariat yang dijalankan adalah hasil dari kepandaian akal pikiran dan hati tanpa ada sesuatu yang mengisi dari semua ibadah yang dilakukan, tapi memang begitulah kenyataannya sifat dari akal pikiran dan hati manusia, jadi apa yang dikerjakan oleh badan jasmani manusia dalam hubungannya dengan Tuhan baru sebatas amalan yang belum terisi atau masih kosong. Ruhani/Jiwa manusia hakekatnya sudah lama tertinggal dalam perkembangannya ketimbang hati dan akal.

    Kita dalam hubungannya dengan Tuhan yang maha tentram, maha damai dan maha segala-galanya, namun pada kenyataannya kita tidak merasakan apapun disaat melakukan perintah yang di syariatkan tersebut, ketika manusia lapar timbul rasa di dalam diri yang mengerti bahwa jasmani memerlukan makanan agar rasa lapar tersebut hilang. Yang demikian itu hanya salah satu contoh bahwa jasmani dalam hubungannya dengan duniawi ada yang terasa disaat ada yang kurang ataupun ketika sedang menjalankan sesuatu yang hubungannya dengan hati dan akal pikiran.

    Hati dan akal pikiran manusia lebih cepat dewasa dan pandai karena lebih dekat dengan keadaan sifatnya yaitu dunia, jauh meninggalkan jiwa sejak manusia mulai bisa menggunakan fungsi panca indra dari jasmaninya. Di sini awal mulai jiwa tenggelam dan digantikan nafsu yang mendayai hati serta akal pikiran manusia, sehingga kenyataan dari hidup mulai berubah dan jauh dari apa yang telah dikehendaki oleh Tuhan YME, karena jiwa yang seharusnya menjadi pemimpin dan pengatur dari kehidupan dan nafsu merupakan pembantu bagi jiwa dalam mengelola hidupnya, namun kenyataannya justru nafsu lewat hati dan akal pikiran telah mengambil peran utama itu dalam kehidupan ini.

    Lantas dengan keadaan yang demikian apakah mungkin manusia bisa menemukan hakekat hidup yang dijalani dalam kesehariannya, dengan melihat keadaan di atas lalu apa hasil dari jasmani yang dapat diberikan untuk kelangsungan hidup di dunia dan nanti setelah tidak lagi berada di dunia. Namun selama ini kita merasa dengan keadaan seperti itu tidak sebuah kekeliruan sehingga menerima saja dan terus menjalankan, tanpa benar-benar mengerti maksud dan tujuan serta kenyataan dari apa yang dilakukan, manusia tidak sadar bahwa shalatnya tanpa isi sehingga tidak memberikan dampak apapun.

    Padahal hakekat shalat dapat mencegah perbuatan yang keji dan menjauhkan kemungkaran yang terdapat di dalam pribadi kita. Maka dengan shalat manusia dapat mencegah gerak dari nafsu yang selalu mengajak manusia dalam keburukan. Dzikir yang kita ucapkan hanya sebatas kata-kata tanpa rasa yang meresap ke dalam pribadi karena terdogma adanya harapan pahala yang timbul dari hati, bukan berdasarkan kepasrahan diri sehingga menjauhkan pribadi dari sentuhan ilahi.

    Jiwa manusia sudah jauh tertinggal dari nafsu, lalu bagaimana usaha kita agar ruhani/jiwa dapat mengimbangi kedewasaan dari nafsu? Apa hanya dengan menjalankan syariat dapat mendewasakan jiwa kita, tentu saja sangat sulit karena syariat hanya mengisi hati dan akal pikiran, namun tidak berdampak bagi perkembangan jiwa. Tapi jika manusia tidak melaksanakan yang disebut syariat agama walaupun belum dapat mengisi pribadi, maka itu menandakan bahwa jiwanya berada di tingkat paling rendah dan nafsulah yang mutlak menguasai kepribadiannya.

    Semua manusia bisa menemukan kenyataan hidupnya yang berada di dalam diri manusia yaitu ruhani/jiwa, namun memerlukan proses untuk dapat terbuka dan bangkit dari pengaruh nafsu. Dimulai dari mempersiapkan jasmani yaitu tidak mengedepankan hati dan akal pikiran, dalam hubungannya dengan Tuhan, dikarenakan daya dari nafsu sudah jauh mengakar ke dalam pribadi maka manusia memerlukan puasa agar pelepasan dari pengaruh hati sedikit demi sedikit dapat berkurang, puasa yang dimaksud adalah membatasi kehendak dari nafsu itu, kalau dalam bahasa jawa “Tirakat”, puasa ini dilakukan pada kehidupan sehari-hari, ini sangat diperlukan sekali karena tanpa itu maka akan menjadi sia-sia, jadi mengurangi segala kehendak yang timbul dari nafsu lewat hati dan akal pikiran, dan fungsi dari puasa adalah membangkitkan kesadaran bahwa jasmani hanya sebagai tempat bagi ruhani dalam mendekatkan diri kepada Tuhan YME, bukan sebagai pelaku utama.

    Jika kesadaran ini belum dimengerti oleh sifat dhohir maka ruhani belum bisa untuk menguasai pribadi, karena memang ruhani akan bangkit setelah kehendak nafsu tidak diikuti oleh hati dan akal pikiran manusia. Jadi walaupun dalam kesehariannya kita selalu menggunakan hati dan akal pikiran namun prosentasenya harus dikurangi, mulai dengan bicara seperlunya dan mengurangi sendau gurau yang itu ditimbulkan dari nafsu kita, mengurangi kwantitas makanan yang kita konsumsi, kemudian perbanyaklah merasakan diri dengan cara menentramkan perasaan hati dan akal pikiran, itu bisa dilakukan dengan cara berdzikir dan benar-benar dirasakan apa yang kita baca tanpa ada muatan dari apa yang kita kerjakan, baik itu secara lisan maupun yang tersyirat di dalam hati.

    Jika kita sering melakukan itu maka ikatan nafsu yang selama ini membelenggu jiwa akan mulai memudar dan berdampak pada perkembangan dari jiwa karena mulai diberikan tempat di dalam pribadi manusia. Dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai manusia tidak pernah melakukan sikap penenangan diri, baik itu disaat kita mau memulai melaksakan tugas sehari-hari dan disaat manusia mau beribadah kepada Tuhan YME, karena nafsu tidak memberikan kesempatan untuk melakukan itu agar kedudukannya dalam mengusai pribadi manusia tidak tergeser oleh jiwa.

    Apa yang di dapat manusia dalam melakukan hal yang demikian dalam kehidupan sehari-hari, yaitu mendahulukan rasa diri dengan jalan menentramkan gejolak yang ditimbulkan oleh hati dan akal pikiran ketika melakukan hubungan dengan Tuhan dan dalam melakukan hidupnya sehari-hari. Dengan cara yang demikian manusia sudah mulai mengerti tentang cara melawan nafsu, dan bagaimana nafsu menguasai pribadi sampai tidak menyadari bahwa itu adalah kesalahan. Manusia mulai menemukan pribadi yang sesungguhnya di dalam dirinya, maka kenyataan akan mulai terbuka yaitu hakekat hidup dari jiwa, jadi perilaku setiap hari bukan lagi atas tuntunan dan bimbingan dari hati dan akal pikiran yang didayai nafsu, namun sudah dari jiwa yang terbimbing langsung oleh Tuhan YME walaupun itu baru proses awal sehingga terasa baru sebatas rasa yang mulai menguasai diri, sifat dari rasa yang sudah terbangkitkan adalah menemukan kesalahan dari sikapnya, mulai mengerti bahwa apa yang dilakukan selama ini bukan atas tuntunan dan bimbingan dari Tuhan YME, namun hanya keinginan hati yang terdayai oleh nafsu.

    Dengan rasa yang terbuka maka manusia lebih peka dengan keadaan, baik keadaan hidup pribadinya maupun kehidupan disekitarnya, sehingga dalam melakukan hubungannya dengan Tuhan YME bukan dengan hati dan akal yang didayai nafsu namun sudah mulai merasakan pribadi dan bersungguh-sungguh dalam ibadahnya. Maka di sini akan menemukan isi dari syariat yang dilakukan setiap harinya, yaitu rasa dari shalat, rasa dari sebuah dzikir dan setiap bhaktinya kepada Tuhan akan menemukan rasa yang bangkit dari dalam dan bukan hanya sebuah kehampaan saja.

    Demikianlah salah satu jalan yang dicari manusia lewat cara Thoriqoh, Tasawuf dan lainnya dalam menjalankan ibadah kepada Tuhan agar menemukan rasa yang bangkit dari dalam pribadinya bukan rasa dari luar yang coba dimasukkan ke dalam diri, sehingga dzikir yang dilakukan sudah dzikir yang didzikirkan oleh Tuhan YME bukan dzikir yang dikehendaki oleh hati dan akal pikirannya. Walaupun demikian banyak dari kalangan thoriqoh belum dapat menemukan karena terhalang oleh hati dan akalnya yang lebih mengutamakan jumlah dalam setiap perilaku ibadahnya, ini disebabkan oleh hati dan akal yang difokuskan pada dzikir dengan hitungan tertentu. Inilah yang menghalangi perilaku ibadah dari thoriqoh sehingga dzikir yang dilakukan justru menutup rasa diri karena lebih mengutamakan kwantitas dari pada kuwalitas. Jika orang yang melakukan ajaran seperti thoriqoh tidak lagi menghitung dalam dzikirnya dan bersungguh-sungguh ketika berhadapan dengan Tuhan, lalu merasakan pribadinya yang sedang berdzikir maka orang-orang thoreqoh tersebut akan menemukan hidupnya yang sebenarnya, sehingga dapat menerima tuntunan bagi hidupnya langsung dari Tuhan YME bukan dengan perantara, dia mulai mengerti apa yang selama ini dilihat, didengar hanya sisi luar dari kehidupan bukan yang hakiki, sehingga manusia hanya melihat dan mendengar dari sifat badan jasmaniah saja tanpa mengetahui pandangan hidup dari badan ruhaniahnya.

    Ini yang membedakan apa yang diterima para Nabi dan Rasul Tuhan dengan manusia yang lain, tapi Tuhan tidak hanya memberikan petunjuknya kepada nabi dan rasul, tapi setiap manusia bisa menerima petunjuk dari Tuhan asal manusia mau untuk menerima apa yang telah diberikan Tuhan kepadanya, yaitu dengan cara berserah diri dan merasakan apa yang ada di dalam pribadinya, karena pada hakekatnya petunjuk dari Tuhan setiap saat telah diterima oleh manusia lewat jiwanya, namun kita tidak merasakan apapun karena nafsu telah menutupi dengan kehendak dan angan-angan yang ditimbulkan lewat hati dan akal pikiran kita. Dan jika manusia sudah bisa mengerti dan merasakan kebangkitan dari jiwa maka petunjuk yang diberikan akan terasa di dalam pribadi, yaitu apa yang disebut sebagai “Ilham”.

    Dan ketika manusia menerima itu maka akan terasa dan berdampak langsung dengan jasmani, jadi apa yang dirasakan oleh jiwa juga dirasakan oleh jasmani kita, yaitu dengan adanya getaran-getaran yang membuat jantung berdetak lebih cepat dari biasanya, dan terasa ada sesuatu yang membuat panca indra kita seakan terisi oleh getaran itu, dan jasmani seperti diselimuti oleh sesuatu yang belum pernah kita rasakan sebelumnya, ini yang disebut sebagai “Khatr” (getaran), di sini kita mulai diperlihatkan hakekat dari jasmani dengan segala panca indranya bahwasanya hati dan akal pikiran sadar namun tidak bisa lagi untuk mengontrol. Hati dan akal pikiran hanya menjadi penonton dari apa yang diterima oleh jiwa dan diperlihatkan hakekat kedudukan dari jasmani, bahwa sisi dhohiriah merupakan peserta atau pembantu bagi jiwa untuk hidupnya di dunia.

    Namun jasmani akan menjadi saksi atas apa yang diterima oleh jiwa dan ikut membuktikan bahwa gerak atau tuntunan hidup bukan hanya dari nafsu, tapi lebih kepada gerak dan bimbingan yang lebih besar, sehingga jasmani seakan menemukan kembali hakekat hidupnya yang sekian lama tenggelam. Karena jasmani terasa akan sesuatu yang selama ini belum pernah dirasakan sebelumnya, yaitu sebuah getaran yang terbangkitkan bukan karena kehendak hati dan akal pikiran manusia, namun karena kepasrahan diri saat menghadap kepadaNya dengan sikap tenang dan menyerah. Selanjutya manusia sudah mulai merasakan apa yang disebut Ilham atau bimbingan langsung dari Tuhan YME lewat jiwanya, maka mulailah Tuhan mengisi dengan ilmu yang sesuai dengan kapasitas pribadinya, yaitu menerima pengertian tentang hidupnya di dunia. Pada fase ini manusia sudah mengerti apa yang di sebut dengan berbhakti yang benar kepada Tuhan YME dengan cara menjalankan segala yang diperintahkan dan meninggalkan apa saja yang dilarang tanpa ada penghalang yang ditimbulkan oleh nafsu karena ini wujud dari kesadaran jasmaniah, dikarenakan pribadinya sudah terisi ruh Ilahi yang bersemayam di dalam jiwa.

    Lalu apa bentuk dari ruh Ilahi yang mengisi jiwa? Yaitu hakekat dari Sabar dan kesabaran bukan isi dari nafsu, melainkan petunjuk dari Tuhan YME dan merupakan sebuah anugerah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendakiNya, karena tanpa kesabaran manusia tidak mungkin melaksanakan apa yang menjadi tanggung jawabnya sebagai manusia. Dan sabar merupakan bentuk dari ketawakalan pribadi kepada Tuhan, sehingga dalam posisi apapun tidak ada keluh kesah yang terucap bahkan tersirat di dalam dirinya, karena dengan adanya rasa tidak menerima atas apa yang ditakdirkan maka itu merupakan wujud ketidakpercayaannya kepada Tuhan YME, hasil dari kesabaran dan ketawakalan adalah keikhlasan, karena sabar dan tawakal tidak akan berbentuk apapun jika tanpa ada rasa ikhlas yang terwujud dalam pribadi manusia.

    Jadi sabar tawakal dan ikhlas adalah ilmu dari Tuhan yang diberikan kepada jiwa manusia yang sudah terbuka dan terisi ruh Ilahi dan wujud atau kenyataan dari isi tersebut adalah sabar tawakal dan lkhlas. Ketiga hal tersebut tidak mungkin dapat dipisahkan dan berdiri sendiri, melainkan ketiga-tiganya saling berkaitan, jadi tidak bisa dikatakan sabar jika manusia belum bertawakal, dan tawakal manusia tidaklah berarti tanpa keikhlasan, dan bagaimana manusia bisa ikhlas kalau belum pernah merasakan hakekat dari kesabaran.

    Itulah penjabaran mengenai hakekat dari manusia yang selama ini belum diketahui karena ketidakpahaman manusia sekarang ini dalam mencari kebenaran yang hakiki di dalam pribadinya, karena manusia sekarang hanya mementingkan proses hidup jasmani yang merupakan sifat dari duniawi , dan merupakan tempat bagi nafsu untuk menghalangi manusia dalam mencapai kesempurnaan hidupnya yaitu sebagai Kholifah. Nafsu merupakan ujian nyata bagi manusia karena tanpa melalui itu semua maka manusia tidak bisa menjadi pemimpin semua makhluk ciptaan Tuhan. Karena tugas sebagai kholifah tidaklah ringan dan tidak mungkin ujian yang diberikan kepada kita hanya suatu hal yang ringan tanpa ada proses pengorbanan, karena dengan semakin berat cobaan hidup yang manusia terima itu menunjukkan kasih sayang Tuhan yang begitu besar kepada manusia. Walaupun apa yang harus dikerjakan manusia adalah sesuatu yang berat, namun jika manusia bisa menemukan hakekat dari pribadinya maka apa yang dikatakan berat pada awalnya, akan terasa ringan karena mendapat tuntunan dan bimbingan dari Tuhan berupa kesabaran ketawakalan dan keikhlasan atas apa yang sedang dikerjakannya.

    Demikian pengertian yang kami tulis tentang hidupnya manusia, memang masih banyak kekurangan dari apa yang kami jelaskan, karena keterbatasan pribadi saya dalam menterjemahkan hakekat hidup, ini dikarenakan kami juga berproses untuk dapat menemukan hakekat hidup pribadi yang lama tenggelam dalam godaan hidup di dunia, sehingga memerlukan waktu untuk dapat mengenal kembali kebenaran dari hidup yang sesungguhnya. walau banyak kekurangan baik dari penjabaran karena kurangnya pemahaman tapi mungkin bisa berguna untuk menambah wawasan baru untuk kita semua, dan untuk segala sesuatunya kami menyerahkan semua kepada Tuhan YME.

    Wassalamu’alaikum warakhmatullahi wabarakaatuh.

    Jepara, 13 Juni 2016
    Penulis
    Machrus Budinoer




 Pilihan Jalan Hidup Manusia

Penulis; Machrus Budinoer, 15 Juni 2016


“Dan jiwa serta penyempurnaan (ciptaanNya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan merugilah orang yang mengotorinya”. (QS. Asy-Syam ayat 7-10).

A. Hakekat Manusia.

Jiwa serta penyempurnaannya merupakan sepenggal arti dari ayat Al-Quran yang menerangkan kepada kita tentang kenyataan hidup manusia di dunia ini, dan manusia merupakan makhluk utama dan pemimpin bagi semua makhluk. Pada hakekatnya diri manusia ada dua kehidupan yang di antara keduanya merupakan perwujudan dari dua alam yang berbeda yaitu jasmani dan ruhani. Jasmani merupakan wujud dari hidup manusia di dunia karena keperuntukan dari penciptaannya adalah alat untuk manusia agar bisa mengelola dan mengatur dunia dan segala isi di dalamnya, agar bisa digunakan dan dimanfaatkan untuk kelangsungan hidupnya. Jasmani manusia adalah wujud paling sempurna dari semua bentuk makhluk yang ada di muka bumi ini.

Karena jasmani dibekali oleh Tuhan dengan segala panca indra yang mempunyai fungsi yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan untuk bertahan dan menyempurnakan dirinya di dunia ini. Mulai dari mata dengan penglihatannya, hidung dengan penciumannya telinga dengan pendengarannya, akal dengan pikirannya, jantung dengan perasaannya, dan hati dengan kepekaannya, itu merupakan alat yang dapat digunakan oleh manusia dari jasmani, tapi untuk dapat menggerakkan dan mefungsikan panca indra dari jasmani maka diisi dengan yang di sebut nafsu yaitu ruh dari dunia, karena tanpa nafsu jasmani tidak akan dapat mengerti apa yang akan dikerjakan di dunia ini.

Karena hakekat dari dunia adalah nafsu maka mempunyai sifat yang sama dengan isi dunia ini, yaitu nafsu dengan sifat dari benda yang disebut syaitoniah, sifat dari tumbuh-tumbuhan atau nabatiah, sifat dari hewan atau khewaniah dan sifat dari dirinya sendiri sebagai manusia yang berbadan yaitu jasmaniah atau mutmainnah. Inilah sifat dari dunia yang kita tempati sekarang ini dan nafsu merupakan perwujudan dari dunia, kemudian dari berpadunya sifat tersebut akan terbentuk kehidupan yang mengisi dan menguasai jasmani yaitu sukma, demikianlah keadaan jasmani manusia yang diciptakan Tuhan dengan segala kelengkapannya.

Kemudian hidup yang kedua yaitu Ruhani, adalah ruh hidup yang hakiki yang di sebut sebagai Nafs (jiwa) dalam firmanNya merupakan wujud nyata dari manusia yang telah ditakdirkan Tuhan untuk menjadi pemimpin dari semua makhluk yang ada, yang tercipta langsung tanpa perantara karena Tuhan sendiri yang menghendaki dan tercipta dari Nur, dan merupakan induk dari semua makhluk yang diciptakan Tuhan, karena alam semesta dan isinya terbuat dari sebagian nur tersebut tanpa terkecuali.
“Ingatlah waktu Allah berkata pada malaikat, bahwa sesungguhnya Aku akan mengangkat seorang khalifah di muka bumi , malaikat menjawab, kenapa Engkau angkat orang yang akan berbuat binasa di bumi ini dan menumpahkan darah? padahal kamilah yang tetap selalu mensucikan dan memuji-Mu, Dia berfirman ”Sungguh Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. Al-Baqarah ayat 30).

Itulah kedudukan dari ruhani manusia yang telah Tuhan tetapkan agar menjadi khalifah atau pemimpin semua makhluk baik di dunia dan akhirat, dan diawali dengan diciptakannya manusia yang bernama Adam yang berarti “Permulaan”, dan sebagai penguji keimanan semua makhluk yang terdahulu kepada perintah Tuhannya.
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “sujudlah kamu kepada Adam!” maka mereka pun bersujud kecuali iblis. ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir. (QS. Al-Baqarah ayat 34).

B. Pilihan Jalan Hidup.

Atas dasar apa Tuhan memerintahkan kepada semua makhluk untuk bersujud dan mengakui kekhalifahan manusia padahal di antara makhluk yang lain manusia merupakan yang paling akhir dalam penciptaannya, sehingga apa yang telah diperintahkanNya ada yang menolak untuk melaksanakannya, dengan alasan bahwa ia sudah lebih dahulu bermakrifat kepada Tuhan sedangkan manusia baru tercipta, dan dia terbuat dari sifat yang lebih tinggi yaitu api sedangkan ia tahu manusia tercipta dari tanah liat.

Demikian penolakan yang diwujudkan oleh makhluk yang bernama Iblis atas perintah Tuhannya. Iblis sudah melampaui batas dari kodrat yang telah ditetapkan sehingga berani untuk menentang perintah yang seharusnya dilakukan, karena hakekat dari makhluk hanya menjalankan apa yang telah menjadi ketetapanNya. “Sungguh Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
Perintah yang telah ditetapkan kepada semua makhluk agar dapat mengakui kekhalifahan manusia bukan sekedar paksaan untuk dilaksanakan namun karena sifat penciptaan semua makhluk dan alam semesta ini adalah dari nur jiwa manusia, jadi induk alam semesta adalah jiwa manusia, maka Tuhan ingin agar mereka tahu bahwa manusia merupakan hakekat dari alam semesta ini, demikian dasar dari kekhalifahan yang menjadi kodrat hidup manusia. Di antara banyaknya pengertian yang telah diberitahukan tentang ketetapan Tuhan kepada manusia sedikit sekali yang menjabarkan mengenai hakekat dari jiwa yang sesungguhnya, “Dan jiwa serta penyempurnaan (ciptaanNya)”, pengertian mengenai hal itu hanya sebatas ungkapan bahasa yang di dapat dari logika akal, sehingga banyak yang tidak mengetahui apa yang di sebut sebagai jiwa manusia.

Pada hakekatnya jiwa merupakan kehidupan manusia di alam ukhrowiyah yaitu alam kekekalan walaupun dalam prosesnya berada di dunia yang merupakan alam kefanaan, dan jiwa perlu untuk menyempurnakan dirinya agar dapat mengenal dan mengerti tentang hidupnya, namun proses dari penyempurnaan dari jiwa sangatlah berbeda dengan jasmani walaupun berada di tempat yang sama.
Wujud dari penyempurnaan jiwa adalah sebuah jalan yang diibaratkan Tuhan sebagai jalan yang terjal dan mendaki karena seolah-olah didalamnya adalah kesusahan, ini merupakan gambaran awal dari proses perjalanan manusia menuju penyempurnaan dari jiwa tersebut. Dalam menjalankan proses kehidupan, manusia diberikan dua jalan hidup yang berbeda yaitu jalan Duniawi dan Ukhrowi, pada proses awal manusia tidak mungkin untuk melangkah secara bersamaan, maka kita harus dapat menentukan jalan mana yang harus kita lalui untuk dapat mencapai tingkat kemuliaan sebagai manusia.

C. Jalan Jasmani.

Jalan yang pertama merupakan jalan hidup yang mengedepankan sifat jasmani, dengan segala kemampuannya jasmani memang diperuntukkan untuk mengelola dan mengembangkan dunia yang ditempati agar dapat digunakan sesuai keinginan dari manusia, karena yang dapat mengetahui cara untuk menata dan menjadikan dunia ini sebagai tempat yang menyenangkan hanyalah manusia, inilah keutamaan jasmani manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya.

Sifat dari duniawi sudah diberikan Tuhan kepada manusia lewat hatinya yang berupa “nafsu” dan merupakan hakekat dari dunia yang ditempati agar apa yang ada di dalam dunia walaupun awalnya belum berbentuk apapun namun karena dengan hidupnya nafsu manusia dapat mengerti bagaimana cara untuk mengolah dan menciptakan bentuk-bentuk dari isi dunia ini sehingga menjadi sesuatu yang berguna dan bernilai tinggi, ini dapat terjadi karena nafsu manusia.
Seperti bentuk dari emas yang awalnya hanyalah sebuah benda yang tidak memiliki bentuk dan nilai, namun setelah hati mengisi emas dengan sifat kesenangan yang ditimbulkan oleh nafsu maka terbentuklah benda yang dapat di pakai sebagai perhiasan dan bernilai tinggi, ini terjadi karena nafsu manusia sendiri yang memberikan sifatnya kepada benda tersebut, sehingga lama kelamaan hati manusia terikat oleh daya yang ditimbulkan dari benda yang bernama emas, maka ketika ikatan tersebut di paksa untuk dilepaskan darinya akan terasa ada yang hilang dan perasaan yang kurang menyenangkan di dalam dirinya.

Demikianlah salah satu contoh jalan kehidupan dari jasmani manusia karena sifat dan isi yang mendayainya adalah dunia maka apa yang ditemukan dalam proses hidup ini hanya menghasilkan ilmu tentang keduniawian. Jalan hidup manusia lewat jasmani adalah pilihan yang diberikan Tuhan kepada manusia dalam proses hidupnya dan merupakan jalan yang banyak di tempuh oleh kebanyakan manusia sekarang untuk hidupnya di dunia, ini karena manusia sekarang hanya mengetahui jalan jasmani dalam proses penyempurnaan.
Ketika kita memilih duniawi untuk jalan hidup menuju pendewasaan dengan sungguh-sungguh menggunakan fungsi jasmani maka yang mengisi kepribadian adalah bentuk dan sifat dari dunia, seperti halnya jika manusia sering berhubungan dengan uang maka sifat dari uang tersebut akan menguasai perasaan dan akal pikiran, sebagaimana sifat dari uang yang dapat digunakan pemiliknya untuk membeli sesuatu dan mewujudkan keinginan dari manusia, semakin banyak jumlah uang yang dimiliki maka semakin besar pula keinginan yang ditimbulkan untuk dapat menguasai dan memiliki apa yang menjadi keinginan dari perasaannya.

Ini terjadi karena dorongan dari sifat benda yang mengisi uang tersebut, lama- kelamaan ikatanpun terbentuk di dalam perasaan karena terlalu sering berhubungan dan hampir seluruh hidupnya digunakan untuk mencari dan mendapatkan uang tersebut, tanpa disadari isi dari pribadinya sudah dikuasai oleh sifat benda. Jalan hidup yang mengutamakan jasmaniah memang demikian adanya karena hakekat duniawi adalah nafsu yang menempati hati, itulah bagian yang telah ditetapkan oleh Tuhan untuk manusia sebagai penguji hidupnya di dunia, nafsu dengan segala pesertanya memang diperuntukkan untuk mencapai kesempurnaan jasmani agar bisa mengelola kebutuhan yang diperlukan untuk hidupnya di dunia sampai batas yang telah ditetapkan untuk jiwa sebelum kembali kepada Tuhan YME.
Tanpa disadari manusia telah menggunakan nafsu dan jasmani bukan hanya untuk keperluan duniawi namun sudah difungsikan melampaui batas kemampuannya dalam urusan keTuhanan, karena jasmani manusia hanya sebagai alat dari ruhani untuk mengenal kehidupan di dunia, jadi jasmani manusia hanya bisa untuk menerima ilmu keduniawian dengan cara belajar dan mencari dengan memaksimalkan akal pikiran dan bersungguh-sungguh dengan apa yang dipelajarinya, sampai mengerti dan mengetahui bagaimana cara untuk mewujudkannya, ini yang disebut sebagai ilmu pengetahuan.

Garis besar dari jalan ini adalah manusia dalam mencari kesempurnaan hidupnya yang dilakukan dengan cara memaksimalkan fungsi dari jasmaninya agar dapat mencapai tingkat tertentu di dunia yang berdasarkan kehendak dari nafsu yang bersemayam dalam hati dan akal pikirannya, kebanyakan manusia sekarang hanya menggunakan jasmani sebagai alat untuk keperluan hidupnya di dunia dan untuk akhirat karena ketidaktahuannya, tanpa disadari proses itupun dilakukan untuk mencari jalan menuju Tuhan dengan memaksimalkan usaha dari jasmani manusia selama hidupnya di dunia dengan harapan apa yang dilakukan dapat mengerti tentang hakekat dari kehidupan ukhrowiyah, oleh sebab itu banyak yang tidak mengetahui kebenaran dari setiap ibadah yang dikerjakan karena hanya sekedar menjalankan apa yang dipelajari saja. Demikianlah sesungguhnya jalan dari jasmani jika manusia memahami maksud dan tujuan serta mengerti makna sebenarnya dari nafsu yang diberikan kepada manusia hanyalah sebagai alat bagi jiwa untuk dapat mengelola dunia ini bukan untuk mengerti dan mengetahui hakekat dari alam ukhrowi.

D. Jalan Ruhani.

Merupakan suatu jalan lainnya untuk manusia yang diberikan Tuhan sebagai pilihan hidup di dunia, pada hakekatnya Tuhan tidak pernah memaksakan kehendak kepada semua makhluk yang diciptakanNya salah satunya adalah manusia yang hakekatnya tidak pernah dipaksa untuk menuruti apa yang diperintahkan, namun semua itu dikembalikan kepada manusia itu sendiri, karena pada hakekatnya Tuhan tidak memerlukan pengakuan dari manusia dan makhluk yang lain tentang keberadaanNya.

Pada dasarnya apa yang diperintahkan kepada manusia merupakan suatu kebutuhan yang diperlukan untuk kelangsungan hidupnya sendiri agar tidak merendahkan pribadinya yang menyebabkan rusaknya susila dalam kehidupan sehari-hari, yang berdampak pada rusaknya tatanan kehidupan di dunia karena rendahnya pribadi manusia, dengan sifat yang demikian maka tidak lagi dapat mengetahui kebenaran dari apa yang dilakukan. Terjadinya hal yang demikian itu karena kesalahan dari awal ketika manusia diberikan pilihan jalan untuk hidupnya hanya menempuh jalan dari sisi jasmani dan menuruti kemauan dari nafsu kehendaknya sendiri, dengan menciptakan kebenaran pada tingkatnya masing-masing berdasarkan pengakuan pribadinya.

Hal ini terlihat sangat jelas pada masa sekarang dengan banyaknya perbedaan-perbedaan yang menyebabkan perselisihan di antara sesama manusia hanya karena kebenarannya tidak diakui, sehingga terjadilah perpecahan di antara mereka dengan membentuk kelompoknya masing-masing agar apa yang menjadi pemikirannya dapat diikuti, dengan membenarkan kelompoknya masing-masing dan menyalahkan lainnya.
Hal ini terjadi karena kebenaran yang diterapkan oleh manusia sekarang hanya berdasarkan kepandaian dari hati dan akal pikirannya saja tanpa mengetahui hakekatnya, demikian jika manusia menjadikan ilmu pengetahuan yang di dapat dari pembelajaran jasmaniahnya untuk menerjemahkan firman Tuhan hanya dengan mengedepankan kepandaian akal pikir.
Yang kedua adalah jalan hidup yang lebih mendahulukan sisi dalam dari pribadi manusia yaitu ruhani, dalam prakteknya untuk menempuh jalan ini kebanyakan manusia tidak mengetahui cara untuk memulainya, disebabkan kurang adanya pengertian yang jelas bagaimana sifat ruhani dan tentang keberadaannya walaupun hakekatnya ada di dalam tempat yang sama, karena penjelasan mengenai hal itu hanya sebatas penyebutan nama dari ruhani namun untuk penjabaran lebih jauh tentang wujud dan eksistensinya dalam pribadi manusia yang sebenarnya jarang sekali yang menjelaskan bagaimana sesungguhnya hidupnya ruhani pada jasmani manusia dan wujud dari kebangkitan tersebut, karena ruhani adalah sifat hidupnya ruh di alam ukhrowi yang bersemanyam dalam tubuh/jasad manusia.

Kita tahu bahwa badan manusia yang disebut jasmani merupakan sifat duniawi dalam prosesnya akan mengalami kematian atau rusak seiring dengan bertambahnya usia dan mengalami penuaan karena tidak bersifat kekal, namun ruhani adalah jiwa dan hakekat dari manusia, jiwa manusia diciptakan oleh Tuhan jauh sebelum jasmani manusia dilahirkan ke dunia, karena hakekat dari jiwa manusia adalah ruh dari semua makhluk di alam semesta ini dan sifat jiwa adalah kekal.
Kembali pada pilihan jalan kedua dari manusia yaitu jalan keruhanian, sesudah jiwa diturunkan ke dunia dan ditempatkan pada badan jasmani manusia saat usia 3 bulan di dalam alam kandungan maka proses awal sudah mulai berjalan, tapi mengapa jiwa ditempatkan pada jasmani yang merupakan tempat bagi nafsu, bagaimana manusia bisa menjadi khalifah jika tidak ada ujian yang nyata untuk dihadapi sehingga pantas bagi manusia untuk menjadi seorang pemimpin karena memang proses hidup yang dijalani tidaklah mudah dalam kehidupannya, inilah bukti kasih sayangnya Tuhan kepada manusia dengan menunjukkan kepada makhluk lain bahwa yang dihadapi seorang khalifah adalah tantangan hidup yang berat dan nyata yaitu duniawi, bukan hanya duniawi yang terlihat pada pandangan mata namun jasmani yang ditempati oleh jiwa merupakan sifat dan isi dari dunia itu sendiri.

Dalam menjalani proses penyempurnaan hidupnya jiwa sudah dihadapkan dengan pertentangan dari dalam, karena sifat dunia lebih dekat dengan nafsu maka lambat laun jiwa mulai terbawa dan menjadi bagian dari nafsu, ini disebabkan karena manusia tidak mengetahui bagaimana cara untuk menjadikan jiwa sebagai penguasa pada kehidupannya.
Jalan hidup ruhani merupakan perwujudan alam ukhrowiah yang dinampakkan di dunia, namun karena berada pada badan jasmani maka ada batasan untuk jiwa dalam menerima pandangan kehidupan ukhrowi, memang demikianlah kehendak yang telah ditetapkan Tuhan kepada jiwa tersebut sebagai penguji proses pendewasaannya, dalam mencapai kesempurnaan hidup jiwa harus dapat menundukkan nafsu yang menjadi alat pesertanya di dunia sampai terbuka batas antara alam duniawi dan alam ukhrowi, sehingga jiwa mengerti tujuan hidup yang telah ditakdirkan.

Tuhan memberikan kepada jiwa sebuah kehidupan di dunia agar dapat menyempurnakan dirinya untuk mencapai tingkatan mutmainnah (ketenangan) sampai batas yang sudah ditetapkan kepadanya, dan untuk mencapai kesempurnaannya jiwa harus menggunakan jasmani untuk menjalani kehidupan ini karena itulah tempat bagi jiwa agar dapat sampai kepada tujuan yang diharapkan. Untuk dapat menempuh jalan ruhaniah manusia harus belajar untuk mengerti bagaimana sifat dunia yang berada pada jasmaninya, agar dapat menemukan cara untuk mengendalikan gerak hati dan akal pikiran yang terdayai oleh nafsu, karena untuk menuju hidupnya ruhani manusia harus bisa mengendapkan keinginan hatinya dalam urusan duniawi. Sikap yang demikian itu tidaklah mudah untuk dilakukan karena dorongan yang ditimbulkan oleh nafsu begitu kuat atas pribadi kita kepada dunia ini.

Hakekat dari nafsu tidak ingin lepas dari manusia, karena hubungan yang terjalin sudah begitu kuat antara manusia dan nafsu duniawi, sehingga terasa pada pribadi kita ada yang hilang jika manusia dijauhkan dari sifat dunia, nafsu tidak mau untuk menerima begitu saja jika pribadi melepaskan hubungan tersebut. Begitu beratnya jalan menuju kebangkitan ruhani sehingga tidak banyak manusia yang memilih untuk melalui jalan tersebut, karena ada rasa kawatir akan hilangnya kemuliyaan jasmani yang berdampak pada keterbatasan finansial dan merasa takut dengan berkurangnya kebutuhan hidup sehari-hari, inilah dasar dari permasalahan mengapa jiwa jauh dari kenyataan hidupnya karena ada rasa was-was yang dibangkitkan oleh nafsu jika manusia akan menempuh jalan ruhani. Pilihan jalan ruhani adalah hakekat dari hubungan manusia dengan Tuhan, untuk menemukan jalan hidup yang nyata dan merupakan tuntunan hidup langsung dari Tuhan YME melalui jiwa yaitu sebuah pengertian tentang bhaktinya manusia kepada Tuhan yang tidak terdayai oleh nafsu, wujud dari proses yang dijalankan ketika manusia benar-benar memilih jalan ini adalah dengan mengurangi keinginan yang timbul dari hati dan akal pikiran apapun bentuk dan sifatnya.

Manusia sebenarnya sudah diarahkan untuk menjadikan ruhani sebagai pilihan hidup yang utama di dunia ini agar kehidupannya sesuai dengan kehendak Tuhan, jika apa yang dikerjakan sehari-hari adalah sebuah tuntunan Ilahi lewat jiwa maka perilaku yang ditimbulkan adalah sebuah kebenaran sehingga berdampak baik pada kehidupan disekitarnya. Dalam mengarahkan hidup manusia Tuhan telah memberikan tutunan agar dilakukan dengan sebaik-baiknya supaya dapat menerima ketetapan bagi hidupnya, dengan diturunkannya Al-Quran merupakan bukti kasih sayang Tuhan kepada manusia agar tidak terlupa dengan ketetapan dan aturan tentang hidupnya di dunia.

Jadi pada hakekatnya apa yang diperintahkan kepada manusia adalah kebutuhan yang diperlukan bagi pribadinya sendiri untuk mencapai kebahagian hidup baik di dunia dan nanti setelah meninggalkan dunia yang disebut sebagai kewajiban manusia kepada Tuhannya, di dalam agama Islam hukum terbagi menjadi beberapa sifat, salah satunya adalah Wajib, itu merupakan aturan yang diberikan agar manusia mengerti tujuan dan pelaksanannya, lalu apa pengertian dari hukum wajib itu, wajib adalah perintah yang harus dikerjakan tanpa ada alasan untuk tidak melakukan bagaimanapun keadaan manusia itu, karena wajib dalam arti sesungguhnya adalah “Dipaksa“ untuk melakukan, sebab tanpa ada pemaksaan untuk menjalankan kewajibannya sebagai manusia, maka perintah tersebut tidak akan dilaksanakan, karena sifat dari nafsu adalah perintang bagi jiwa dalam proses pendewasaannya, oleh sebab itu diperlukan sebuah aturan agar nafsu menjadi takut dan mau menuruti keinginan dari jiwa dalam bhaktinya kepada Tuhan YME.

Perintah yang diwajibkan atas manusia diperlukan agar jasmani mencapai titik kesadaran, seperti kewajiban manusia untuk mendirikan shalat lima waktu supaya jasmani tunduk dan sadar tentang fungsinya di dunia hanya sebagai tempat bagi jiwa untuk mencapai kesempurnaan, sampai terbiasa dalam menjalankan shalat tersebut dan menemukan kesadaran sehingga dalam pelaksanaannya tidak lagi merasa seperti dipaksakan. Dengan bangkitnya kesadaran dari jasmani yang diawali dengan memaksakan dirinya untuk menjalankan apa yang menjadi kewajiban bagi hidupnya maka lama kelamaan akan terbiasa dengan perilaku hidup yang baik dan mengarah kepada jalan ketenangan dengan tidak lagi terlalu menuruti gerak dan kehendak dari nafsunya, sehingga mulai mengerti kebutuhan dari jiwa yaitu berbhakti kepada Tuhan YME dengan sungguh-sungguh tanpa ada lagi perasaan dipaksa dalam menjalankannya inilah yang di sebut sifat dari “Sunnah”, jadi maksud dari Sunnah adalah “Kebutuhan”. Ini yang kemudian menjadi jalan bagi jiwa untuk dapat menguasai nafsu walaupun dengan perlahan dan terwujud melalui jasmani, di karenakan manusia sudah merasa bahwa pribadinya memang membutuhkan untuk dapat berbhakti kepada Tuhan.

Selasa, 19 April 2016

Kebenaran Yang Lain

 Demikianlah maka manusia ditempatkan pada kedudukan yang mulia oleh Tuhan, akan tetapi di era sekarang ini kenapa banyak sekali manusia berbuat yang tidak sesuai dengan etika dan susila kehidupan, banyak sekali kerusakan-kerusakan di dunia yang disebabkan oleh ulah manusia, apa ada yang salah dengan kepribadian manusia sekarang ini? Lalu di mana pribadi yang baik itu?.

Semua hal yang menyebabkan manusia mengalami perubahan dalam hidup ini, tidak lain karena dampak dari dunia yang sudah sedemikian majunya, kita tahu bahwa manusia tercipta dari dua hal yang keduanya sangatlah berbeda, yaitu jasmani yang di bentuk dari unsur duniawi sehingga apa yang ada di dunia ini sangatlah mempengaruhi perkembangan hidup dari jasmani manusia itu, sedangkan jiwa manusia tercipta dari Nur yang diciptakan langsung oleh Tuhan YME, oleh sebab itu karena kehidupan manusia ada dan berlangsung di dunia, maka kedekatan dengan dunia itu yang menyebabkan manusia kenal dan lebih dekat dengan keadaan dunia.

Karena sifat dari jasmani adalah duniawi maka yang mampu menangkap daya dari dunia adalah sisi jasmani dari manusia, sehingga menyebabkan tenggelamnya jiwa yang seharusnya menjadi panutan dari kelangsungan hidup manusia di dunia ini. Kita sering beranggapan bahwa dalam menyempurnakan dan melatih jiwa agar menjadi jiwa yang sempurna/kamil, adalah dengan cara melatih dan mengembangkan dari sifat jasmani secara terus menerus, dan bahkan pengertian kita tentang jiwa serta penyempurnaanya tidak pernah terpikir untuk mencari bagaimana cara untuk melakukannya.

Kita beranggapan bahwa jiwa tidak begitu penting, sehingga manusia kebanyakan melupakan dari sifat jiwa tersebut, dan banyak sekali manusia sampai dengan meninggalnya tidak mengetahui dan mengenal dari jiwanya sendiri, mungkin itu bukan karena kesalahan dari dirinya sendiri, karena kita tahu bahwa pengertian yang menjelaskan soal jiwa dan cara melatih/mengolah jiwa tersebut sangatlah terbatas, tidak banyak orang yang mampu menjelaskan mengenai jiwa tersebut. kita tahu banyak sekali orang yang mengajarkan tentang ilmu agama, baik di sekolahan maupun di tempat-tempat tertentu yang khusus dalam mengajarkan agama.

Namun tidak kita sadari bahwasanya kita hanya dikenalkan ilmu-ilmu agama dari sisi luarnya saja, kita dapat menerima itu dengan kepandaian akal fikir, dengan bersungguh-sungguh belajar dan mencermati apa saja yang diajarkan, jadi yang menerima apa yang di sebut dengan ilmu agama hanya sebatas pengertian untuk jasmani saja.