SABAR-TAWAKAL-IKHLAS
Penulis ; Machrus Budinoer
Kata pembuka dari penulis
Assalaamu’alaikum warakhmatullaahi wabarakaatuh.
Alkhamdulillahirabbil‘alamin, puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan YME yang selalu memberikan rahmat dan hidayah serta bimbingan kepada kita, sehingga di dalam hidup ini kita sebagai manusia selalu diberi kesempatan dalam memperbaiki kesalahan, walaupun sering kali kita selalu mengulang kesalahan yang sama, namuen karena rasa sayangnya Tuhan yang begitu besar kepada manusia maka kita selalu diberikan waktu untuk dapat memperbaiki tindakan kita yang salah, sampai nanti pada batas yang telah ditetapkan bagi manusia untuk meninggalkan dunia dan kembali kepadaNya.
Syukur alkhamdulillah buku keempat sudah selesai kami tulis yang berjudul Sabar Tawakal Ikhlas, karena tanpa petunjuk dan kemurahan Tuhan YME tidaklah mungkin kami dapat menulis dan menyelesaikan buku ini, maksud dari penulisan buku ini karena kebanyakan manusia sekarang hidup dalam naungan dari nafsunya, sehingga petunjuk yang diperoleh hanya sebuah gambaran yang ditimbulkan dari hati dan akal pikirannya, oleh sebab itu maka manusia hanya dapat mempercayai dari apa yang dapat dilihat dan didengar oleh panca inderanya.
Lewat buku ini kami mencoba untuk menterjemahkan makna dari hidup dengan dasar pengertian yang kami terima, ini hanya salah satu dari ribuan makna yang sudah diberikan oleh orang-orang yang masih peduli dengan kehidupan yang semakin jauh dari kebenaran. Pada kehidupan sekarang yang mana Firman hanya sekedar menjadi bacaan saja tanpa memberikan arti yang jelas bagi kehidupan pembacanya, ini menadakan bahwa agama sudah tidak dianggap penting lagi oleh para pengikutnya. Inilah kenyataan yang harus kita terima bahwasanya manusia sekarang sudah melupakan hakekat hidup dan hanya sekedar menuruti kehendak nafsu yang sudah menjajah kepribadian hidup manusia sehingga apa yang dilakukan dalam kehidupannya sehari-hari hanya sebuah kebohongan. Karena memang begitulah sifat dari nafsu, agar menjadi penghalang antara manusia dengan Tuhannya.
Untuk itu maka kami merasa perlu untuk menuliskan pengertian yang kami dapat, untuk menambah wawasan kita agar manusia lebih mengenal hakekat hidupnya sendiri. Buku yang keempat ini mulai kami tulis pada hari kamis tanggal 01 Juni 2016 di Desa Sekuro Kec. Mlonggo Kab. Jepara, semoga dengan adanya buku ini akan menambah pengertian baru bagi kita dalam mengenal dan mengetahui kenyataan dari hidup kita.
Demikian pengantar dari kami semoga Allah SWT selalu memberikan keberkahan hidup kepada kita semua, dan kami mohon maaf apabila di dalam buku yang kami tulis ada hal-hal yang di rasa tidak tepat kami hanya menyerahkan saja semua kepada Allah SWT, karena hakekat kebenaran hanya Allah yang dapat mengetahui, kurang lebihnya kami sampaikan terima kasih.
Wassalamu’alaikum warakhmatullahi wabarakaatuh.
Jepara, 13 Juni 2016
“Sabar Tawakal dan Ikhlas merupakan hakekat dari hidupnya jiwa manusia yang sudah terisi Ruh Ilahiyah”.
Manusia adalah makhluk yang tidak bisa hidup sendiri, tapi membutuhkan bantuan dari orang lain agar dapat mencukupi dan mengatur kehidupannya, telah ditetapkan kepada manusia bahwa sebagai makhluk yang memerlukan bantuan dan pertolongan, maka seharusnya manusia lebih mengedepankan kebijaksanaan dalam besikap dan berperilaku kepada sesama manusia. Itu merupakan dasar dari hidup yang seharusnya ditanamkan dalam kepribadian kita.
Pada kehidupan sehari-hari manusia tidak bisa lepas dari peraturan dan norma kehidupan yang berlaku di masyarakat, sehingga dalam mensikapinya diperlukan kepribadian yang terbuka yaitu terbuka dengan keadaan dirinya, baik keadaan yang baik maupun keadaan yang kurang baik menurut hati dan perasaan, sesuai dengan judul dari tulisan ini yaitu Sabar Tawakal Ikhlas, kita akan mulai membahasnya. Sabar Tawakal dan Ikhlas merupakan bahasa atau perkataan yang biasa diucapkan dan disampaikan serta sering kali kita mendengarnya, biasanya disampaikan kepada pribadi kita maupun kepada orang yang sedang mengalami keadaan hidup yang kurang mengenakkan, hal ini biasa terucap dari orang yang simpati dan mengetahui keadaan dari sesamanya ketika sedang menghadapi suatu permasalahan, agar orang tersebut lebih kuat dan selalu bersyukur dengan apa yang telah ditetapkan oleh Tuhan YME kepada dirinya.
Tapi pertanyaannya adalah apakah hakekat dari Sabar Tawakal dan Ikhlas tersebut? bagaimana keadaan manusia saat menerima itu, bagaimana keadaan pribadi kita, dari mana sifat tersebut dan bagaimana kita bisa melakukannya?.
Mungkin banyak orang yang menganggap pertanyaan itu hanya mengada-ada saja, tapi pada kenyataannya sabar tawakal dan ikhlas merupakan kunci perjalanan manusia agar dapat bertahan dalam menghadapi ujian dan tantangan hidup, juga untuk kebutuhan manusia dalam hubungannya dengan Tuhan YME, jadi begitu pentingnya ketiga hal tersebut, karena tanpa itu semua maka apa yang kita kerjakan dan lakukan tidaklah memberikan hasil apapun.
Tapi kebanyakan dari kita, itu hanya merupakan ungkapan bahasa sehari-hari dan tidak memberikan dampak apapun bagi pribadi manusia itu sendiri, dalam prakteknya kesabaran ketawakalan dan keikhlasan itu hanya sebagai sikap ketidakberdayaan akal dan hati dari manusia untuk dapat melakukan tindakan untuk melawan keadaan tersebut, sehingga pada akhirnya kita berlaku seperti sikap sabar dalam menerima itu semua.
Demikianlah sikap yang dilakukan oleh kebanyakan manusia sekarang ini yang hanya mengedepankan kata-kata dan memaksakan diri untuk mengikuti kemauan dari akal dan hatinya, sehingga dalam mensikapi permasalahan hidup hanyalah ungkapan kebohongan dirinya saja.
Ini sudah sering terjadi di kehidupan sehari-hari, bagaimana sikap dari manusia sekarang ini dalam menghadapi hidup yang dijalaninya, kita sering melihat dan mendengar banyak sekali manusia melakukan tindakan yang sangat bertentangan dengan susila, hanya karena permasalahan yang tidak dapat diselesaikan sehingga melakukan segala hal walaupun tindakannya tersebut melanggar norma-norma yang ada, tanpa melihat bahwa apa yang dilakukan merupakan suatu tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Mungkin saja permasalahan yang dihadapi sudah berlangsung lama dan tidak tahu bagaimana menyelesaikan dan menerima saja dengan sikap yang seakan-akan adalah suatu kesabaran ketawakalan dan keikhlasan, namun kebohongan dari pribadi yang demikian pada akhirnya akan terbuka dengan sendirinya, bahwa apa yang dilakukan itu belum sampai pada hakekatnya, sehingga menyebabkan manusia tersebut melakukan tindakan yang tidak semestinya, lalu apa yang salah dari sikap kita selama ini dalam memaknai dan memahami arti dari hal tersebut?.
Sebelum melangkah lebih jauh marilah kita mundur kebelakang, mengenai sikap dan perilaku manusia kepada Tuhan YME, karena itu merupakan pondasi agar manusia dapat melangkah lebih jauh dalam menjalani kehidupannya di dunia, karena tanpa mengetahui bagaimana manusia itu dalam mendekatkan diri kepada Tuhan YME maka tidak mungkin dapat menemukan kenyataan hidup bagi pribadinya, tanpa tahu hakekat hidup maka tidak mungkin manusia menemukan jalan bagi kelangsungan hidupnya.
Namun demikian sedikit sekali pemahaman manusia tentang keadaan ini, dan sudah berlangsung lama bahkan terkadang sampai meninggal dunia manusia tidak mengerti bagaimana caranya manusia berbhakti dan mengetahui jalannya menuju Tuhan YME yang disebut ibadah, dengan tidak mengetahui cara berbhakti maka tidaklah mungkin manusia dapat mengerti hakekat hidup.
Tidak dipungkiri bahwa sebagai manusia yang beragama tentu berkewajiban untuk menjalankan aturan-aturan yang terkandung di dalam ajaran agama tersebut, kalau kita beragama Islam maka ibadah yang dilakukan adalah sesuai dengan tuntunan yang telah diberikan Allah SWT melalui Nabi Muhammad SAW, yaitu dengan bersyahadat, sholat, puasa, zakat dan menunaikan haji, demikian ajaran dari agama Islam. Apa yang telah diajarkan oleh Nabi sudah cukup untuk manusia sebagai bekal dalam menjalani kehidupan baik di dunia maupun nanti setelah meninggalkan dunia.
Lantas bagaimana cara melaksanakan ibadah kepada Tuhan YME yang betul sehingga dapat memberikan dampak nyata pada pribadi manusia, kita tentu sering melihat dan mendengar banyak sekali kemungkaran yang terjadi dimana-mana, yaitu kemungkaran yang nyata di sekitar kita, mereka melakukan itu semua tanpa ada rasa malu bahwasannya apa yang dikerjakan merupakan keburukan dan berdampak tidak baik untuk dirinya dan juga orang lain. Adanya tindakan yang jauh dari susila tersebut dilakukan oleh orang yang beragama, dan merekapun dalam kesehariannya sudah menjalankan syariat yang ditetapkan, tapi kenapa ibadah yang dikerjakannya tidak dapat mempengarui pribadinya agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan dari syariat agamanya. Ibadah yang dikerjakan pada kesehariannya seperti shalat, puasa bahkan ditambah dengan amalan dzikir setiap selesai melakukan shalat, namun kemungkaran itupun dilakukannya kembali setelah melakukan bhaktinya kepada Tuhan, lantas apa yang salah dari ibadahnya?.
Pada kenyataannya kita sebagai manusia dalam belajar tentang agama dimulai dan dikenalkan dengan syariat atau sesuatu yang dapat kita lihat dan kita dengar saja, dari proses tersebut manusia mengetahui ilmu agama di tempat-tempat pembelajaran dengan bimbingan orang yang pandai dalam bidangnya.
Tentu saja ini diperlukan kesungguhan saat menimba ilmu yang telah diberikan oleh para pembimbing agar nantinya kita benar-benar dapat memahami syariat dari agama, dan ini merupakan awal yang baik untuk manusia agar dapat mengetahui apa saja ajaran-ajaran dalam agama sehingga bisa menjadi pedoman untuk manusia dalam melaksanakan fungsinya di kehidupan ini.
Pelajaran yang diterima di awal merupakan modal bagi kita untuk dapat melangkah lebih jauh dalam mengenal dan mengerti hakekat tentang agama dan bagaimana kenyataan suatu ibadah agar apa yang dikerjakan tidak menjadi suatu hal yang sia-sia, lantas apa kita berhenti disitu?.
Apa kita sudah puas dengan apa yang kita dapat hafal dan banyaknya buku yang dibaca sehingga bertambah pula pengertian mengenai hal itu, sehingga merasa bahwa kita sudah cukup pandai untuk mengetahui kebenaran dari agama dan mengerti cara berbhakti yang benar kepada Tuhan YME. Kalau demikian maka kita sebagai manusia sudah jauh dari sebuah kebenaran yang ditetapkan, dan pada kenyataannya kita tidak benar-benar mengerti, karena apa yang kita pahami dari ilmu agama pada tingkat syariat merupakan sebuah awal dari sebuah rencana besar yang akan kita bangun kedepannya.
Dan syariat merupakan modal pertama yang harus disiapkan agar nanti kita sebagai manusia tidak terlalu berat dalam menyelesaikan tugas yang lebih besar, syariat merupakan pedoman bagi akal dan hati manusia agar lebih paham dengan keadaan hidup yang berkeTuhanan, untuk itu maka para ulama-ulama besar agama islam selalu mencari cara agar dapat lebih mengetahui tentang hakekatnya ibadah dan hakekat dalam berbhakti kepada Tuhan YME.
Kemudian banyak sekali para ulama yang menemukan jalannya masing-masing dalam mendekatkan diri kepada Tuhan, seperti adanya ajaran Thoriqoh, Tasyawuf, dan lain sebagainya, para ulama sadar bahwa apa yang selama ini dikerjakan yang berhubungan dengan bhakti kepada Tuhan tidak hanya seperti itu, para ulama memahami sifat dari syariat merupakan manifestasi dari akal dan hati manusia saja, yang di dapat dari pembelajaran di tempat-tempat yang diperuntukkan untuk itu. Namun itu tidaklah cukup bagi pribadi manusia, karena jika manusia hanya mengerti dari akal dan hati saja maka ilmu itu bukanlah suatu hal yang abadi, karena sifat dari akal dan hati adalah fana/dapat rusak, maka tentu saja apa yang diketahui dari sisi tersebut akan rusak dan hilang pula.
Demikianlah maka jika manusia memahami arti bhakti kepada Tuhan hanya dari sisi syariat maka di dalam menjalani kehidupannya manusia hanya menemukan lapisan terluar dari ilmu yang sebenarnya, lalu kenapa para ulama masih mencari jalan yang lain untuk dapat lebih mengerti tentang hakekat? lalu Apa Thoriqoh atau Tasawuf itu?.
Para ulama mengetahui bahwasanya manusia diciptakan Tuhan dari dua hal yang berbeda dan pada awalnya keduanya tidaklah hidup dalam tempat yang sama, yang di sebut Jasmani/jasad dan Rohani/jiwa, dan itu bukanlah seperti yang sering dikatakan kebanyakan orang bahwa jasmani adalah badan manusia serta rohani adalah hati dari manusia, jadi seakan-akan keduanya merupakan hal yang sama sehingga perlakuan diantara keduanya pun sama, kemudian hal itulah yang di tolak oleh para ulama-ulama sufi, bahwa jasmani dan rohani merupakan dua hal yang berbeda, diantara keduanya pun membutuhkan hal yang berbeda untuk kebutuhan hidupnya dalam perjalanan di dunia ini. Karena ketidaktahuan kita apa yang ada di dalam pribadi kita serta tidak mengetahui dan mengenal keberadaannya, oleh sebab itu dalam perjalanannya manusia banyak sekali melakukan kesalahan yang tidak disadari.
Ini karena kita sebagai manusia lebih mengedepankan akal dan hati yang merupakan isi dari jasmani untuk mengatur kehidupan, terlebih lagi akal dan hati sudah di pakai melampaui batas kemampuannya yaitu untuk mengenal Tuhan, apakah dengan menghafal dan mengetahui dari mendengar serta membaca cukup bagi akal dan hati untuk dapat mengetahui kebenaran yang hakiki? sedangkan kita tahu bahwa pada akhirnya jasmani akan rusak saat manusia meninggalkan dunia.
Kebanyakan manusia dalam melakukan ibadahnya kepada Tuhan hanya sebatas kewajiban yang harus dikerjakan, tanpa mau menggali apa sebenarnya ibadah itu, saya contohkan salah satu ibadah wajib bagi umat islam yaitu shalat, kita dalam sehari semalam paling sedikit mengerjakan shalat sebanyak 5 kali yang berjumlah 17 rakaat, dan itu merupakan yang wajib untuk dilakukan, jadi pada hakekatnya kalau kita sadar dalam sehari semalam manusia bertemu dengan Tuhannya sebanyak 5 kali.
Lalu pertanyaannya adalah apa yang kita dapatkan dari shalat itu? Bagaimana rasa dari pribadi kita saat hadir dihadapan Tuhan? apakah cukup seperti itu kita shalat tanpa mengerti dan merasakan apapun, bagaimana rasa dari takbir, bagaimana rasa dari rukuk dan bagaimana rasa dari sujud?. Itulah yang dikatakan bahwa sesungguhnya akal dan hati manusia tidak dapat mengerti dan mengetahui cara bhakti kepada Tuhan, walaupun dalam kenyataannya sudah benar-benar menjalankan apa yang diperintahkan namun hakekatnya hanya sebuah kekosongan saja. Begitulah kenyataannya bahwa sebagai manusia memang tidak mudah dalam menjalankan tugas yang sudah ditetapkan baginya, untuk menjadi pemimpin di muka bumi ini.
Akal dan hati yang berisi sifat/daya dari nafsu sejatinya hanya difungsikan untuk mengelola dan mengembangkan dunia yang ditempati agar bisa berguna bagi jasmaninya, dan untuk hubungan dengan Tuhannya manusia seharusnya menggunakan sisi ruhani/jiwa yang bersemayam di dalam pribadinya, namun tidak pernah tersentuh karena ketidaktahuan manusia tentang ruhani/jiwa tersebut. Para ulama mulai mengerti bahwa apa yang dikerjakan akal dan hatinya hanya kekosongan saja, maka mereka mulai mencari bagaimana seharusnya bhakti kepada Tuhan yang betul itu, maka munculah ajaran-ajaran seperti Thoriqoh, Tasawuf dan sebagainya.
Pada hakekatnya thoriqoh merupakan salah satu jalan untuk berbhakti kepada Tuhan dengan tidak mengedepankan akal dan hati, namun lebih kepada rasa diri dalam melakukan ibadah, jadi apa yang dirasakan saat manusia berdzikir kepada Tuhan, sampai menemukan hakekat dzikir yang sebenarnya. Ini merupakan jalan yang lebih baik dari sebelumnya, sehingga ibadah yang dilaksanakannya sudah mulai mengisi pribadi dengan rasa yang tenang dan tentram. Namun jika tidak disadari manusia yang melakukan ajaran thoriqoh juga akan terjebak oleh nafsunya sendiri, kita tahu ajaran thoriqoh adalah memperbanyak berdzikir dengan menyebut asma Tuhan sebanyak-banyaknya baik dengan cara mengingat dan merasakan setiap waktu, namun karena cara berdzikir yang banyak inilah maka kebanyakan orang yang menekuninya terjebak dalam hitungan, sehingga membangkitkan akal dan hatinya lagi.
Lama kelamaan rasa yang sudah terbangkitkan karena ketenangan dalam menjalankan ibadah lambat laun akan tertutup kembali, ini terjadi karena apa yang kita lakukan sudah kembali terdayai oleh sifat dari jasmani. Di dalam thoriqoh sedikit demi sedikit manusia mulai dikenalkan dengan sifat dari ruhani/jiwa, karena dalam pelaksanaan ibadahnya thoriqoh lebih masuk dalam sifat rasa, walaupun sifat dari dzikir yang dilakukan masih terpola oleh akal pikiran dengan cara memasukkan dalam pribadi yang bersemayam di jasmani sampai menemukan getaran dari rasa.
Diharapkan dengan keadaan dzikir yang demikian itu dapat membuka ruhani yang tertutup oleh nafsu, sehingga dengan bangkitnya ruhani/jiwa maka manusia sudah mulai menemukan jalan hakekat ke Tuhan YME dan mulai menemukan kenyataan dari ibadah yang sesungguhnya.
Pada fase ini manusia mulai dikenalkan dengan yang namanya hakekat hidup bukan lagi syariat maupun thoriqoh, karena dengan terbukanya ruhani/jiwa yang ada dalam jasmani maka apa yang dikerjakan di dalam ibadahnya kepada Tuhan merupakan sesungguhnya ibadah, namun perlu dipahami bahwasanya awal kebangkitan dari jiwa merupakan proses pertama dalam hidupnya jiwa tersebut dan bisa dikatakan baru terlahir/hidup.
Dalam proses pendewasaan kehidupan dari ruhaniah/jiwa manusia tidaklah sama dengan hidupnya jasmaniah sehingga apa yang dibutuhkan antara keduanya pun berbeda, lalu bagaimana cara agar proses hidup dalam mengenal Tuhan YME merupakan sebuah proses yang sesungguhnya, bukan hanya sekedar mengetahui sisi luarnya saja? Diawali dengan berdzikir dengan menyebut asma Tuhan YME, apa yang dimaksud dengan dzikir?. Dzikir adalah pengakuan manusia atas ketidakmampuan dalam segala hal dan tidak berkuasa atas apapun juga pada kehidupannya di dunia dan nanti setelah meninggalkan dunia, dzikir juga berarti pengakuan pribadi manusia atas ke Esaan Tuhan dan menjadi tempat bergantung untuk dirinya.
Di sini jasmani hanya menjadi sarana bagi jiwanya dalam mendekatkan diri dengan menjalankan sesuai syariat, namun pada pelaksanaannya rasa sangat penting untuk dapat mengerti hakekat dari dzikir yang kita ucapkan. Kenapa dzikir yang sering kita lakukan di setiap waktu tidak dapat memberikan dampak yang nyata pada pribadi kita, padahal dalam proses dzikir kita hakekatnya sedang berhadapan dengan Tuhan, namun kita tidak merasakan kehadiranNya dan kita pun tidak merasa bahwa kita berada dihadapan Tuhan.
Ini karena saat melakukan ibadah tidak berada pada kesadaran yang mutlak, manusia kebanyakan masih diperdaya oleh sifat nafsu yang bersemayam di hati dan akal pikiran manusia yang selalu ingin diikuti kehendaknya, agar apa yang dikerjakan tidak menyentuh ke dalam rasa diri sehingga lambat laun akan membangkitkan jiwa yang berada di dalam pribadi, dengan bangkitnya jiwa manusia maka kedudukan dari nafsu yang selama ini menguasai manusia akan tergeser kedudukannya.
Inilah yang terjadi selama ini bahwa pada hakekatnya manusia hidup hanya menggunakan kehendak dari nafsu yang menguasai hati dan akal pikirannya, hingga kita sebagai manusia terlupa bahwa kita sudah menggunakan sisi yang salah untuk mendekat dan mengenal Tuhan YME. Bukti nyata dari pengaruh nafsu adalah apapun yang kita lakukan selalu dengan harapan dan balasan dari Tuhan YME, atas apa yang telah kita perbuat dan lakukan, bukan karena kebutuhan yang memang diperlukan untuk manusia itu sendiri. Jadi saat berdzikir dan mendekat kepada Tuhan maka kita seharusnya berada dalam kesadaran yang mutlak, untuk mencegah hati dan akal pikiran menguasai pribadi kita, sehingga dalam dzikir kita bisa masuk dalam tingkatan khusuk yaitu “Tentram”.
Adapun tentram itu berada dalam rasa diri manusia yang sudah dalam ketenangan dan tidak terpengaruh oleh sifat dari nafsu, jadi ketika berdzikir rasakanlah apa yang kita ucapkan dengan tenang sampai merasakan perubahan rasa di dalam diri, yaitu rasa yang mungkin belum pernah kita rasakan sebelumnya, sampai ke dalam ketentraman mutlak yang bangkit bukan dari nafsu.
Seumpama kita berdzikir ”Laaila ha illallah” maka dengan sadar kita mengakui ke Esaan Tuhan dan yakin dengan sungguh-sungguh bahwa tiada yang kita sembah selain Allah SWT dan tiada penolong selain Dia, jika beristighfar maka dengan bersungguh-sungguh kita mengakui segala kesalahan dengan tenang dan dirasakan di dalam pribadi sentuhan dari Tuhan lewat jiwa kita. Ini bisa dinyatakan kalau kita dalam melakukan itu sudah melepaskan semua ikatan-ikatan dengan duniawi karena itulah penghambat hubungan antara ruhani/jiwa manusia dengan Tuhan YME, karena dunia adalah sifat dari nafsu yang bersarang di hati dan akal pikiran manusia. Pada hakekatnya ibadah yang dilakukan manusia kepada Tuhan seharusnya ada sesuatu yang namun disaat manusia menjalankan perintah dari yang membuat rasa, justru kita tidak pernah merasakan apapun dengan apa yang kita kerjakan saat beribadah kepadaNya.
Kehadiran kita hanya sebatas perwujudan dari apa kita dapat dari pelajaran akal pikiran yang sudah diajarkan kepada kita sejak dari kecil dan hanya sebatas hal-hal yang dicontohkan. Hal tersebut yang kita praktekkan dan menjadi prioritas dalam menjalankan ibadah kepada Tuhan YME, tanpa lagi mau menggali dan mencari isi yang terkandung di dalamnya, kalau disimpulkan ibadah kita hanya mengikuti dan menerima saja apa yang telah diajarkan kepada kita, jadi apa yang didapatpun tidak jauh beda dari apa yang diterima dari orang yang mengajarkannya.
Oleh karena itu maka manusia dalam menemukan hakekat pribadinya akan bertambah sulit dan semakin jauh, ini dikarenakan syariat yang dijalankan adalah hasil dari kepandaian akal pikiran dan hati tanpa ada sesuatu yang mengisi dari semua ibadah yang dilakukan, tapi memang begitulah kenyataannya sifat dari akal pikiran dan hati manusia, jadi apa yang dikerjakan oleh badan jasmani manusia dalam hubungannya dengan Tuhan baru sebatas amalan yang belum terisi atau masih kosong. Ruhani/Jiwa manusia hakekatnya sudah lama tertinggal dalam perkembangannya ketimbang hati dan akal.
Kita dalam hubungannya dengan Tuhan yang maha tentram, maha damai dan maha segala-galanya, namun pada kenyataannya kita tidak merasakan apapun disaat melakukan perintah yang di syariatkan tersebut, ketika manusia lapar timbul rasa di dalam diri yang mengerti bahwa jasmani memerlukan makanan agar rasa lapar tersebut hilang. Yang demikian itu hanya salah satu contoh bahwa jasmani dalam hubungannya dengan duniawi ada yang terasa disaat ada yang kurang ataupun ketika sedang menjalankan sesuatu yang hubungannya dengan hati dan akal pikiran.
Hati dan akal pikiran manusia lebih cepat dewasa dan pandai karena lebih dekat dengan keadaan sifatnya yaitu dunia, jauh meninggalkan jiwa sejak manusia mulai bisa menggunakan fungsi panca indra dari jasmaninya. Di sini awal mulai jiwa tenggelam dan digantikan nafsu yang mendayai hati serta akal pikiran manusia, sehingga kenyataan dari hidup mulai berubah dan jauh dari apa yang telah dikehendaki oleh Tuhan YME, karena jiwa yang seharusnya menjadi pemimpin dan pengatur dari kehidupan dan nafsu merupakan pembantu bagi jiwa dalam mengelola hidupnya, namun kenyataannya justru nafsu lewat hati dan akal pikiran telah mengambil peran utama itu dalam kehidupan ini.
Lantas dengan keadaan yang demikian apakah mungkin manusia bisa menemukan hakekat hidup yang dijalani dalam kesehariannya, dengan melihat keadaan di atas lalu apa hasil dari jasmani yang dapat diberikan untuk kelangsungan hidup di dunia dan nanti setelah tidak lagi berada di dunia. Namun selama ini kita merasa dengan keadaan seperti itu tidak sebuah kekeliruan sehingga menerima saja dan terus menjalankan, tanpa benar-benar mengerti maksud dan tujuan serta kenyataan dari apa yang dilakukan, manusia tidak sadar bahwa shalatnya tanpa isi sehingga tidak memberikan dampak apapun.
Padahal hakekat shalat dapat mencegah perbuatan yang keji dan menjauhkan kemungkaran yang terdapat di dalam pribadi kita. Maka dengan shalat manusia dapat mencegah gerak dari nafsu yang selalu mengajak manusia dalam keburukan. Dzikir yang kita ucapkan hanya sebatas kata-kata tanpa rasa yang meresap ke dalam pribadi karena terdogma adanya harapan pahala yang timbul dari hati, bukan berdasarkan kepasrahan diri sehingga menjauhkan pribadi dari sentuhan ilahi.
Jiwa manusia sudah jauh tertinggal dari nafsu, lalu bagaimana usaha kita agar ruhani/jiwa dapat mengimbangi kedewasaan dari nafsu? Apa hanya dengan menjalankan syariat dapat mendewasakan jiwa kita, tentu saja sangat sulit karena syariat hanya mengisi hati dan akal pikiran, namun tidak berdampak bagi perkembangan jiwa. Tapi jika manusia tidak melaksanakan yang disebut syariat agama walaupun belum dapat mengisi pribadi, maka itu menandakan bahwa jiwanya berada di tingkat paling rendah dan nafsulah yang mutlak menguasai kepribadiannya.
Semua manusia bisa menemukan kenyataan hidupnya yang berada di dalam diri manusia yaitu ruhani/jiwa, namun memerlukan proses untuk dapat terbuka dan bangkit dari pengaruh nafsu. Dimulai dari mempersiapkan jasmani yaitu tidak mengedepankan hati dan akal pikiran, dalam hubungannya dengan Tuhan, dikarenakan daya dari nafsu sudah jauh mengakar ke dalam pribadi maka manusia memerlukan puasa agar pelepasan dari pengaruh hati sedikit demi sedikit dapat berkurang, puasa yang dimaksud adalah membatasi kehendak dari nafsu itu, kalau dalam bahasa jawa “Tirakat”, puasa ini dilakukan pada kehidupan sehari-hari, ini sangat diperlukan sekali karena tanpa itu maka akan menjadi sia-sia, jadi mengurangi segala kehendak yang timbul dari nafsu lewat hati dan akal pikiran, dan fungsi dari puasa adalah membangkitkan kesadaran bahwa jasmani hanya sebagai tempat bagi ruhani dalam mendekatkan diri kepada Tuhan YME, bukan sebagai pelaku utama.
Jika kesadaran ini belum dimengerti oleh sifat dhohir maka ruhani belum bisa untuk menguasai pribadi, karena memang ruhani akan bangkit setelah kehendak nafsu tidak diikuti oleh hati dan akal pikiran manusia. Jadi walaupun dalam kesehariannya kita selalu menggunakan hati dan akal pikiran namun prosentasenya harus dikurangi, mulai dengan bicara seperlunya dan mengurangi sendau gurau yang itu ditimbulkan dari nafsu kita, mengurangi kwantitas makanan yang kita konsumsi, kemudian perbanyaklah merasakan diri dengan cara menentramkan perasaan hati dan akal pikiran, itu bisa dilakukan dengan cara berdzikir dan benar-benar dirasakan apa yang kita baca tanpa ada muatan dari apa yang kita kerjakan, baik itu secara lisan maupun yang tersyirat di dalam hati.
Jika kita sering melakukan itu maka ikatan nafsu yang selama ini membelenggu jiwa akan mulai memudar dan berdampak pada perkembangan dari jiwa karena mulai diberikan tempat di dalam pribadi manusia. Dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai manusia tidak pernah melakukan sikap penenangan diri, baik itu disaat kita mau memulai melaksakan tugas sehari-hari dan disaat manusia mau beribadah kepada Tuhan YME, karena nafsu tidak memberikan kesempatan untuk melakukan itu agar kedudukannya dalam mengusai pribadi manusia tidak tergeser oleh jiwa.
Apa yang di dapat manusia dalam melakukan hal yang demikian dalam kehidupan sehari-hari, yaitu mendahulukan rasa diri dengan jalan menentramkan gejolak yang ditimbulkan oleh hati dan akal pikiran ketika melakukan hubungan dengan Tuhan dan dalam melakukan hidupnya sehari-hari. Dengan cara yang demikian manusia sudah mulai mengerti tentang cara melawan nafsu, dan bagaimana nafsu menguasai pribadi sampai tidak menyadari bahwa itu adalah kesalahan. Manusia mulai menemukan pribadi yang sesungguhnya di dalam dirinya, maka kenyataan akan mulai terbuka yaitu hakekat hidup dari jiwa, jadi perilaku setiap hari bukan lagi atas tuntunan dan bimbingan dari hati dan akal pikiran yang didayai nafsu, namun sudah dari jiwa yang terbimbing langsung oleh Tuhan YME walaupun itu baru proses awal sehingga terasa baru sebatas rasa yang mulai menguasai diri, sifat dari rasa yang sudah terbangkitkan adalah menemukan kesalahan dari sikapnya, mulai mengerti bahwa apa yang dilakukan selama ini bukan atas tuntunan dan bimbingan dari Tuhan YME, namun hanya keinginan hati yang terdayai oleh nafsu.
Dengan rasa yang terbuka maka manusia lebih peka dengan keadaan, baik keadaan hidup pribadinya maupun kehidupan disekitarnya, sehingga dalam melakukan hubungannya dengan Tuhan YME bukan dengan hati dan akal yang didayai nafsu namun sudah mulai merasakan pribadi dan bersungguh-sungguh dalam ibadahnya. Maka di sini akan menemukan isi dari syariat yang dilakukan setiap harinya, yaitu rasa dari shalat, rasa dari sebuah dzikir dan setiap bhaktinya kepada Tuhan akan menemukan rasa yang bangkit dari dalam dan bukan hanya sebuah kehampaan saja.
Demikianlah salah satu jalan yang dicari manusia lewat cara Thoriqoh, Tasawuf dan lainnya dalam menjalankan ibadah kepada Tuhan agar menemukan rasa yang bangkit dari dalam pribadinya bukan rasa dari luar yang coba dimasukkan ke dalam diri, sehingga dzikir yang dilakukan sudah dzikir yang didzikirkan oleh Tuhan YME bukan dzikir yang dikehendaki oleh hati dan akal pikirannya. Walaupun demikian banyak dari kalangan thoriqoh belum dapat menemukan karena terhalang oleh hati dan akalnya yang lebih mengutamakan jumlah dalam setiap perilaku ibadahnya, ini disebabkan oleh hati dan akal yang difokuskan pada dzikir dengan hitungan tertentu. Inilah yang menghalangi perilaku ibadah dari thoriqoh sehingga dzikir yang dilakukan justru menutup rasa diri karena lebih mengutamakan kwantitas dari pada kuwalitas. Jika orang yang melakukan ajaran seperti thoriqoh tidak lagi menghitung dalam dzikirnya dan bersungguh-sungguh ketika berhadapan dengan Tuhan, lalu merasakan pribadinya yang sedang berdzikir maka orang-orang thoreqoh tersebut akan menemukan hidupnya yang sebenarnya, sehingga dapat menerima tuntunan bagi hidupnya langsung dari Tuhan YME bukan dengan perantara, dia mulai mengerti apa yang selama ini dilihat, didengar hanya sisi luar dari kehidupan bukan yang hakiki, sehingga manusia hanya melihat dan mendengar dari sifat badan jasmaniah saja tanpa mengetahui pandangan hidup dari badan ruhaniahnya.
Ini yang membedakan apa yang diterima para Nabi dan Rasul Tuhan dengan manusia yang lain, tapi Tuhan tidak hanya memberikan petunjuknya kepada nabi dan rasul, tapi setiap manusia bisa menerima petunjuk dari Tuhan asal manusia mau untuk menerima apa yang telah diberikan Tuhan kepadanya, yaitu dengan cara berserah diri dan merasakan apa yang ada di dalam pribadinya, karena pada hakekatnya petunjuk dari Tuhan setiap saat telah diterima oleh manusia lewat jiwanya, namun kita tidak merasakan apapun karena nafsu telah menutupi dengan kehendak dan angan-angan yang ditimbulkan lewat hati dan akal pikiran kita. Dan jika manusia sudah bisa mengerti dan merasakan kebangkitan dari jiwa maka petunjuk yang diberikan akan terasa di dalam pribadi, yaitu apa yang disebut sebagai “Ilham”.
Dan ketika manusia menerima itu maka akan terasa dan berdampak langsung dengan jasmani, jadi apa yang dirasakan oleh jiwa juga dirasakan oleh jasmani kita, yaitu dengan adanya getaran-getaran yang membuat jantung berdetak lebih cepat dari biasanya, dan terasa ada sesuatu yang membuat panca indra kita seakan terisi oleh getaran itu, dan jasmani seperti diselimuti oleh sesuatu yang belum pernah kita rasakan sebelumnya, ini yang disebut sebagai “Khatr” (getaran), di sini kita mulai diperlihatkan hakekat dari jasmani dengan segala panca indranya bahwasanya hati dan akal pikiran sadar namun tidak bisa lagi untuk mengontrol. Hati dan akal pikiran hanya menjadi penonton dari apa yang diterima oleh jiwa dan diperlihatkan hakekat kedudukan dari jasmani, bahwa sisi dhohiriah merupakan peserta atau pembantu bagi jiwa untuk hidupnya di dunia.
Namun jasmani akan menjadi saksi atas apa yang diterima oleh jiwa dan ikut membuktikan bahwa gerak atau tuntunan hidup bukan hanya dari nafsu, tapi lebih kepada gerak dan bimbingan yang lebih besar, sehingga jasmani seakan menemukan kembali hakekat hidupnya yang sekian lama tenggelam. Karena jasmani terasa akan sesuatu yang selama ini belum pernah dirasakan sebelumnya, yaitu sebuah getaran yang terbangkitkan bukan karena kehendak hati dan akal pikiran manusia, namun karena kepasrahan diri saat menghadap kepadaNya dengan sikap tenang dan menyerah. Selanjutya manusia sudah mulai merasakan apa yang disebut Ilham atau bimbingan langsung dari Tuhan YME lewat jiwanya, maka mulailah Tuhan mengisi dengan ilmu yang sesuai dengan kapasitas pribadinya, yaitu menerima pengertian tentang hidupnya di dunia. Pada fase ini manusia sudah mengerti apa yang di sebut dengan berbhakti yang benar kepada Tuhan YME dengan cara menjalankan segala yang diperintahkan dan meninggalkan apa saja yang dilarang tanpa ada penghalang yang ditimbulkan oleh nafsu karena ini wujud dari kesadaran jasmaniah, dikarenakan pribadinya sudah terisi ruh Ilahi yang bersemayam di dalam jiwa.
Lalu apa bentuk dari ruh Ilahi yang mengisi jiwa? Yaitu hakekat dari Sabar dan kesabaran bukan isi dari nafsu, melainkan petunjuk dari Tuhan YME dan merupakan sebuah anugerah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendakiNya, karena tanpa kesabaran manusia tidak mungkin melaksanakan apa yang menjadi tanggung jawabnya sebagai manusia. Dan sabar merupakan bentuk dari ketawakalan pribadi kepada Tuhan, sehingga dalam posisi apapun tidak ada keluh kesah yang terucap bahkan tersirat di dalam dirinya, karena dengan adanya rasa tidak menerima atas apa yang ditakdirkan maka itu merupakan wujud ketidakpercayaannya kepada Tuhan YME, hasil dari kesabaran dan ketawakalan adalah keikhlasan, karena sabar dan tawakal tidak akan berbentuk apapun jika tanpa ada rasa ikhlas yang terwujud dalam pribadi manusia.
Jadi sabar tawakal dan ikhlas adalah ilmu dari Tuhan yang diberikan kepada jiwa manusia yang sudah terbuka dan terisi ruh Ilahi dan wujud atau kenyataan dari isi tersebut adalah sabar tawakal dan lkhlas. Ketiga hal tersebut tidak mungkin dapat dipisahkan dan berdiri sendiri, melainkan ketiga-tiganya saling berkaitan, jadi tidak bisa dikatakan sabar jika manusia belum bertawakal, dan tawakal manusia tidaklah berarti tanpa keikhlasan, dan bagaimana manusia bisa ikhlas kalau belum pernah merasakan hakekat dari kesabaran.
Itulah penjabaran mengenai hakekat dari manusia yang selama ini belum diketahui karena ketidakpahaman manusia sekarang ini dalam mencari kebenaran yang hakiki di dalam pribadinya, karena manusia sekarang hanya mementingkan proses hidup jasmani yang merupakan sifat dari duniawi , dan merupakan tempat bagi nafsu untuk menghalangi manusia dalam mencapai kesempurnaan hidupnya yaitu sebagai Kholifah. Nafsu merupakan ujian nyata bagi manusia karena tanpa melalui itu semua maka manusia tidak bisa menjadi pemimpin semua makhluk ciptaan Tuhan. Karena tugas sebagai kholifah tidaklah ringan dan tidak mungkin ujian yang diberikan kepada kita hanya suatu hal yang ringan tanpa ada proses pengorbanan, karena dengan semakin berat cobaan hidup yang manusia terima itu menunjukkan kasih sayang Tuhan yang begitu besar kepada manusia. Walaupun apa yang harus dikerjakan manusia adalah sesuatu yang berat, namun jika manusia bisa menemukan hakekat dari pribadinya maka apa yang dikatakan berat pada awalnya, akan terasa ringan karena mendapat tuntunan dan bimbingan dari Tuhan berupa kesabaran ketawakalan dan keikhlasan atas apa yang sedang dikerjakannya.
Demikian pengertian yang kami tulis tentang hidupnya manusia, memang masih banyak kekurangan dari apa yang kami jelaskan, karena keterbatasan pribadi saya dalam menterjemahkan hakekat hidup, ini dikarenakan kami juga berproses untuk dapat menemukan hakekat hidup pribadi yang lama tenggelam dalam godaan hidup di dunia, sehingga memerlukan waktu untuk dapat mengenal kembali kebenaran dari hidup yang sesungguhnya. walau banyak kekurangan baik dari penjabaran karena kurangnya pemahaman tapi mungkin bisa berguna untuk menambah wawasan baru untuk kita semua, dan untuk segala sesuatunya kami menyerahkan semua kepada Tuhan YME.
Wassalamu’alaikum warakhmatullahi wabarakaatuh.
Jepara, 13 Juni 2016
Penulis
Machrus Budinoer
Tidak ada komentar:
Posting Komentar